S

ungguh, ada sinergi antara kesadaran (yaqzhah) dengan tekad yang kuat (azzam) dalam iman. Dimana kekuatan tekad untuk berjalan menuju ar-Rahman akan selalu sebanding dengan tingkat kesadaran iman yang kita punya. Sedang tindakan kita untuk bersiap-siap pun akan selalu sejalan dengan tingkat azzam, tekad kita.

Sehingga, gabungan keduanya akan menuntun kita untuk focus, sekaligus cermat. Fokus adalah selalu melihat tujuan akhir dan tidak tergoda untuk menoleh ke kanan dank e kiri, sedang cermat adalah ketelitian untuk memilih dan memerhatikan apa yang boleh dan apa yang tidak, mana yang harus diambil dan mana yang harus ditinggalkan, juga peduli antara kesesuaian hasil dengan energi yang terpakai, sekaligus perhitungan skala prioritasnya.

Tapi lihatlah, betapa kacau dunia kita, kini! Kekacauan yang membuat pilihan hidup beriman menjadi sulit, sekaligus pahit. Banyak diantara kita yang kemudian menjadi bingung menentukan sikap. Terombang-ambing gelombang pemikiran menyesatkan yang mengepung hamper seluruh alam sadar. Kita limbung diterjang badai!

Kita harus tahu, betapa beratnya menjaga kesadaran iman, bahkan setelah kita sempat merasai setitik manisnya. Padahal kesadaran inilah penjaga jiwa dari kelalaian dan keterlenaan. Yang juga akan member kita energy untuk menempuh perjalanan ibadah, membawa seluruh diri kita, hidup mati, jiwa raga kepada Allah, Sang Empunya seluruh semesta.

Maka, tak sekedar akal, kita juga butuh bashirah. Pancaran cahaya iaman dalam hati yang akan membantu kita menerima dan memahami informasi para rasul tentang hakikat kehidupan ini. Menjadikan kita mudah mencerna logika iman beserta petunjuk-petunjuknyta, yang sejatinya bertebaran di seluruh penjuru jagad raya.

Bashirah inilah yang menyadarkan kita akan makna nama-nama dan sifat-sifat Allah yang indah terpuji, dan tinggi. Bahwa setiap nama dan sifat-Nya menunjukkan kesempurnaan tiada tara, diluar jangkauan akal. Ia juga akan membimbing kita memahami kedudukan perintah dan larangan-Nya, juga janji dan ancaman-Nya. Bahwa Allah sangat berkuasa sekaligus sempurna. Tidak ada yang bathil dan sia-sia dalam setiap ciptaan dan tindakan-Nya.

Bashirah ini akan membebaskan kita dari kebingungan, kesamaran, dan keraguan. Kita menjadi mudah, insya Allah, untuk memahami realita hidup dengan standard ganda dunia akhirat yang sering tidak sejalan. Bahwa kebenaran tidak selalu menuntut pembuktiannya di dunia ini, meski ia bisa menghantarkan keyakinan ke dalam hati.

Dengan bashirah iman, tidaklah sulit untuk memercayai bahwa Allah mengetahui jalannya seekor hitam di atas batu hitam pada malam gelap kelam dan ditimpa hujan. Bahwa Allah mendengar berbagi suara riuh rendah dalam bermacam bahasa, ucapan, dan sejuta permintaan. Allahu Akbar!

Bashirah ini akan menuntun kita untuk pasrah dan menyerah kepada wahyu Allah, dan patuh kepada kebenarannya. Menerimanya tanpa penentangan akal dan hawa nafsu yang hanya menunjukkan kebodohan dan keterbatasan makhluk.

Alangkah nikmatnya menjadi hamba yang beriman, dan alangkah celakanya manusia kafir yang ingkar. Bashirah ini, mengajarkannya kepada si empunya. Dan mereka, mudah-mudahan adalah kita! Wallahu a’lam.

(sumber: Majalah Islam Ar-Risalah Edisi 88 Volume VIII Nomor 4 Syawal 1429 H / Oktober 2008)

Iklan