Al-Ikhwan.net | 10 December 2006 | 18 Dzulqaidah 1427 H | Hits: 2,283
DR. Muhammad Mahdi Akif

Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam selalu tercurah atas pemimpin kita, nabi Muhammad saw, beserta keluarga dan sahabat. selanjutnya…

Akhir-akhir ini begitu banyak rintangan yang dihadapi oleh umat Islam, bahaya yang terus mengancam di sekitarnya, kepedihan dan kesedihan datang silih berganti, krisis dan bencana terus terjadi seakan enggan untuk berhenti…

Penjajah yahudi zionis hari demi hari terus menambah kekejamannya, mengepung saudara kita di bumi Palestina yang didukung langsung oleh rekan dekatnya Amerika, menghancurkan tanaman dan keluarga, melakukan kerusakan di muka bumi, menghancurkan rumah dan sarana umum, membuat terowongan bawah tanah, menangkap, memenjarakan, bahkan membunuh dan membunuh warga Palestina yang tidak berdosa, sementara itu di Bait Hanoun para wanita dengan gagah berani menjadi tameng hidup menghadapi permusuhan mereka hingga ajal menjemput mereka

Di Irak masih terus berkecamuk perang antara dua golongan (sunni dan Syiah), dimana para penjajah membuat warganya menjadi berkelompok-kelompok, saling menyerang antar kelompok, membantai anak-anak dan para ulama, merampas harta, dan melakukan polarisasi para penerusnya, yang kebanyakan dari keturunan Arab, menggunakan nama seperti nama-nama kita, berbicara dengan bahasa kita, namun mereka tetaplah kelompok jahat yang selalu memusuhi kita!! Memecah belah umat!! Memporak-porandakkan negara hingga mencapai titik kehancuran yang menyedihkan.

Di negara Sudan masih saja terjadi persekongkolan untuk memecah belah negara Sudan; dengan tujuan agar daerah selatan Sudan yang merupakan seperempat daerah subur negara Sudan berpisah darinya. Setelah itu di bagian barat Sudan (Darfour) adanya intervensi negara luar (barat) sehingga terus berkobar perang disana, boleh jadi setelah itu bagian timur Sudan yang saat ini sedang mengalami kemajuan..

Di Afganistan Amerika berusaha menguasai dan mengokohkan pendudukannya disana; guna menguasai tempat tersebut secara ekonomi dan politik, mengeliminir keberadaan daerah yang berbatasan dengan iran, memutus eksistensi Rusia dan Cina, menguasai sumber minyak di lautan Qazwin dan Asia Tengah, dan bertujuan mengamankan perekonomian dan kemaslahatan perusahaan minyak Amerika.

Adapun secara internal mayoritas bangsa Arab dan negara Islam berada dalam kekuasaan diktator, yang eksis didukung oleh musuh-musuh kita, pekerjaannya hanya memiskinkan umatnya, membodohi warganya dan melemahkan keberadaan mereka… politik, militer, ekonomi, ilmu dan seni.

Para pejabat dan pemimpin di negara-negara arab atau negara mayoritas penduduknya muslim selalu mempertahankan jabatan mereka (kursi singganasananya) hingga bertahun-tahun lamanya, hidup dengan penuh kemewahan dan kenikmatan, merampas kekayaan negara… didukung oleh kekuatan penjajah barat – dipimpin oleh Amerika Serikat – menjajah umat Islam, merampas kekayaan negara, menghantam siapa saja yang menghalanginya; demi mendapatkan jati diri dihadapan persekutuan yang baru, satu misi dan visi.

Persekutuan ini telah mengakar dalam tubuh mereka, kediktatoran internal dengan kejahatan external sehingga umat menjadi terbelakang dalam bidang keilmuan, tidak memiliki kemampuan yang maksimal, mengharap akan makanan dan pakaian, hidup dengan kemiskinan ditengah kemajuan negara lain, sehingga keadaan ini menjadi jurang pemisah antara kami dengan bangsa lain. Demikianlah nasib kita sebagai warga Arab dalam bidang keilmuan yang tidak bisa meningkatkan kemampuan pendapatan lebih dari 3 dollar dibanding dengan pendapatan warga dinegara barat hingga mencapai 409 dollar perhari seperti negara Jerman, 601 Dollar di Jepang dan 681 Dollar di Amerika.

Persekutuan ini terus bertambah kekejamannya dengan ditangkapnya dan dipenjarakannya orang-orang yang berusaha melakukan perubahan secara bebas (terbuka), para pemegang prinsip Islam dan akhlak yang mulia dalam menghadapi kediktatoran yang telah menghancurkan nilai-nilai dan prilaku dari kehidupan mereka.

Persekutuan tersebut terus bercokol hingga terjadi benturan dengan tsawabit (keutuhan) islam dan nilai-nilainya, hingga muncul sekelompok orang yang memerangi hijab (jilbab) dengan menggunakan kekuasaan, menghalangi dakwah kepada Allah SWT dengan meggunakan undang-undang memangkas segala aktivitas kebajikan dengan menggunakan jabatan dan membiarkan kebebasan melalui kekuatan nafsu syahwani.

Persekutuan telah merambah pada penghapusan sejarah umat Islam, menghilangkan loyalitas para pemuda terhadap Islam, kecendrungan dan keterikatan mereka pada agama, umat dan negara.

Persekutuan ini telah melahirkan generasi yang kehilangan kepercayaan terhadap masa depannya, memandang masa depan dengan hampa, penuh ketakutan, kekhawatiran dan keraguan.

Menghadapi rintangan

Rintangan yang selalu kita pelajari setiap pagi dan sore ini, yang selalu mengancam eksistensi kita sebagai bangsa dan umat dan mengancam keyakinan (aqidah) dan syariat kita, sangatlah membutuhkan dari sekelompok umat yang mau mengerahkan segala potensinya, pengorbanannya, dan selalu berusaha untuk berada dijalan yang lurus dalam menghadapi ancaman ini.

Kami sangat membutuhkan adanya barisan yang lurus dan para mukhlisin dari generasi umat guna mengdapi dan menghadang kedzaliman para penguasa dan penjajah eksternal (barat) dan para diktator internal (penguasa arab) dan menghancurkan persekutuan mereka. Karena mereka telah megnhinakan kebangsaan kita, menghancurkan (persatuan) negeri kita. Bahwa tabiat agama kita adalah kemuliaan, mengajak untuk selalu memiliki himmah aliya (semangat yang tinggi), azam yang kuat, tsiqoh, serta selalu bergerak guna menyelamatkan umat, menghadapi rintangan dan ancaman tanpa ada rasa putus asa dan takut, dan tanpa ada keraguan dalam mengemban amanat, karena syariat dan agama Islam mengharamkan sikap putus asa dan pesimisme, melarang untuk merasa hina dan lari dari beban dan amanah. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu merasa hina dan bersedih hati karena kamu adalah yang paling tinggi (mulia) jika kamu beriman” (QS Ali Imron: 139), dan firman Allah: “Sehingga jika para Rasul sudah merasa putus asa dan merasa mereka telah didustakan maka datanglah kepada mereka pertolongan Kami” (QS. An-Nisa : 110).

Kami menyadari.. bahwa kami adalah manusia biasa, kami bersedih sebagaimana yang dialami umat kami, kami berduka terhadap apa yang dialami oleh saudara kami, namun kesedihan dan duka bukanlah jalan terbaik kecuali mendorong kita untuk bersimpuh disisi Allah, tsiqoh pada pertolongan-Nya, tawakkkal kepada-Nya, berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menyelamatkan perahu (yang hampir karam) dan menghalau rintangan. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kalian berputus asa dari Ruh (pertolongan) Allah, karena tidaklah berputus asa dari Ruh Allah kecuali orang-orang kafir” (QS. Yusuf : 78), dan Allah berfirman: “Dan tidaklah berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang sesat” (Al-Hijr : 56), dan Allah berfirman: “Apakah kalian mengira akan masuk surga sementara belum datang kepada kalian (cobaan) seperti orang-orang sebelum kalian, mereka ditimpa kesulitan dan kesusahan dan goncangan sehingga Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya berkata: “Kapan datangnya pertolongan Allah”. Ketahuilah bahwa pertolongan adalah dekat” (QS. Al-Baqoroh : 214).

Realitasnya

Jika tabiat agama kita mengajak kita untuk selalu bekerja dan berusaha tanpa henti agar mampu menghalau segala ancaman dan rintangan, dan jika kabar gembira datang dari langit karena usaha dan kerja keras serta teguh dalam menghadapi segala ancaman…maka realitasnya adalah menggapai kabar gembira, menghadirkan kemenangan pada setiap bangsa; selalu bersemangat dalam menjalankan (melaksanakan) kewajiban, dan mengemban amanah dan tanggung jawab tanpa ragu-ragu dan merasa hina.

Demikianlah yang terjadi pada saat perang di Libanon; memperteguh pada diri setiap orang bahwa setiap bangsa memiliki keinginan untuk merdeka, menghadang setiap ancaman dengan pukulan yang lebih keras terhadap musuh yang mengklaim dirinya tidak bisa dikalahkan, menggagalkan proyek pembangunan tatanan timur tengah yang baru.

Demikian juga halnya dengan negara Iran yang mampu merobohkan kepungan dan menghadang segala rintangan, hingga mampu keluar dari jalan gelap yang telah direkayasa oleh Amerika melalui negara-negara tetangganya.

Bahkan demikian pula dengan Korea Utara yang mampu keluar dengan sendirinya dari cengkraman, Amerika telah mendikte dunia yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun.

Demikian pula dengan saudara kita Hamas yang bersikukuh dengan pendiriannya di hadapan rintangan yang menyelimuti mereka dari berbagai arah dan menyerbu dari segala penjuru, mereka mampu membawa senjata dalam menghadapi musuh, keluar mempertahankan diri dan negara mereka. laki-laki dan wanita bahkan anak-anak rela berkorban tanpa ada rasa takut mati.

Hari demi hari mulai hadir kesadaran terhadap realita yang terjadi di tengah umat ini, para pemuda yang telah mendapatkan potensi yang mereka miliki; padahal sebelumnya mereka telah lupa dengan agama, sejarah, azzam dan loyalitas mereka, namun secara perlahan kesadaran para generasi terhadap nilai-nilai, agama dan loyalitas mereka terhadap umat lahir kembali.

Apa yang harus dilakukan??

Dengan adanya basyarah ilahiyah (kabar gembira dari Allah) dan realitas ini, tidak ada yang dapat kita lakukan kecuali melakukan usaha dengan sungguh-sungguh dan berkesinambungan, karena waktu bukan hanya untuk kemaslahatan bangsa dan umat kita saja.

Kita membutuhkan generasi dari pemuda yang mengenal Tuhan mereka, memahami besarnya tantangan, memahami risalah mereka, mampu berdiri tegak dijalannya dan berpegang teguh dengan misi mereka, memperindah hiasan agama dan dakwah serts amal untuk kemasalahatan umat; dakwah dan pemahaman, usaha dan pembinaan, target dan karakter, ikhlas dan kejujuran serta kesucian dan tauladan.

Kami membutuhkan kesadaran umat dan bangsa dari kelalaiannya, mengingatkannya dari bahaya yang mengkungkung dan menyelimutinya dari lingkaran yang menggerogoti hidupnya tanpa menyembunyikan potensi dan tanpa berlambat-lambat dalam bekerja.

Kami juga membutuhkan adanya tolong-menolong bersama para mukhlisin guna menyambung keseimbangan ilmiyah dan komunikasi antara kami dan seluruh umat, ditengah tekanan dari para pemimpin, guna meningkatkan pendapatan finansial dan melakukan riset ilmiyah dan teknologi yang dapat memberikan kemaslahatan umat.

Kami juga membutuhkan adanya shaf (barisan) melawan kedzaliman dan kediktatoran para pemimpin di negeri-negeri kita, dan memobilisasi kepada para pejabat untuk selalu berpihak pada rakyaknya, condong kepada bangsanya ketimbang memata-matai untuk kepentingan musuh, agar para pejabat menyadari bahwa sandaran yang hakiki tidak akan terwujud kecuali jika berpegang teguh pada tsawabit, aqidah dan syariah, condong kepada rakyat sehingga menjadi alternatif, bergerak untuk membela umat, melawan/menghadang berbagai ancaman yang menyelimuti bangsa negara.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah pada baginda Muhammad saw, nabi yang ummi, kepada keluarga, para sahabat… dan segala puji hanyalah milik Allah.

(DR. Muhammad Mahdi Akif, Mursyid Am Al-Ikhwanul Muslimun)

Iklan