Oleh Abu Dzar Al-Ghifari | 31 Desember 2008


Back to asholah, adalah kata yang seringkali didengar oleh hampir seluruh aktivis yang peka terhadap kondisi dakwah hari ini. Kondisi dimana ada prioritas yang dirasa sebagai prioritas yang kebablasan. Sehingga memerlukan duduk bersama untuk kembali menata prioritas tersebut.

Dalam rangka 1 Muharram 1430 H, konteks back to asholah akan saya bawa kepada satu konteks dimana hal ini jarang sekali tersentuh. Wajar saja jika seorang manusia melihat kesalahan dan kebaikan dalam satu kacamata maka yang akan terlihat adalah kesalahan yang menutupi kebaikan. Jadi, apapun kebaikan yang dilakukan oleh dakwah hari ini akan tertutupi oleh keburukan atau mungkin kelalaian segelintir pelaku-pelaku dakwah.

Secara maksud back to asholah adalah sebuah keinginan dan semangat untuk mengembalikan hal-hal yang telah keluar dari koridor-koridor prinsip dakwah dan menggiringnya kembali kepada prinsip-prinsip dakwah yang ada.

Terlepas dari segala ungkapan dan maksud dari back to asholah yang saat ini berkembang di kalangan aktivis. Satu hal yang perlu kita pahami bersama bahwa back to asholah yang hakiki (pertama kali di kembalikan) adalah back to tauhid. Mari kita mengingatkan rekan seperjuangan dakwah kita, teman-teman sekeliling kita, dan masyarakat sekitar kita untuk memahami kembali tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Beliau saja mengajarkan tauhid ini selama kurang lebih 13 tahun. Ini sebagai tanda bahwa mengajak manusia kembali kepada tauhid adalah suatu keharusan.

Back to tauhid ini tercermin dalam setiap usroh-usroh yang dilakukan setiap pekannya. Karena usroh ini sebagai washilah dalam mewujudkan pembinaan karakter manusia agar menjadi pribadi muslim yang kaaffah dan berkarakter. Dan karakter awal yang harus dicapai dari pembinaan karakter ini adalah salimul aqidah dan shohihul ‘ibadah. Jelas rasanya jika setiap usroh berfungsi dengan baik dalam membina tauhid para a’dhonya. Ditambah dengan pengetahuan-pengetahuan Islam lainnya baik fiqih, ekonomi, politik, sosial kemasyarakatan, atau kenegaraan sehingga pada akhirnya dapat membentuk karakter pribadi muslim yang kokoh dan berwawasan.

Hal kedua yang harus sama-sama kita pahami adalah bagaimana sekarang kita mengajak para aktivis dimanapun lini dakwah mereka untuk back to manhaj. Tentunya berbicara minhajul islam maka kita berbicara al-qur’an, as-sunnah, dan hikayatu shahabat.

Dewasa ini, berbondong-bondong aktivis melakukan kritisasi terhadap kebijakan dakwah saat ini sampai melupakan aspek ukhuwah. Padahal, manhajnya jelas, innamal mu’minuna ikhwah, sesungguhnya setiap mukmin adalah bersaudara. Akan tetapi, dalam melakukan kritisasi seringkali menggunakan cara-cara yang tidak manhaji bahkan keluar dari koridor itu.

Selanjutnya yang harus kita sama-sama pahamkan kembali adalah bagaimana kita kembali menyentuh masyarakat, back to ummah. Karena qadhaya assasiyah ummah dapat terselesaikan manakala kita aktif dan berpartisipasi langsung dalam proses penyelesaiannya. Umat sudah bosan dengan gaya strukturalis mereka rindu dengan orang-orang yang benar-benar merakyat, kulturalis, bukan hanya slogan.

Teringat kisah khalifah Umar ibnu Khaththab radiyallahu ‘anhu, yang tatkala ia menginspeksi rakyatnya mengetahui ada seorang ibu yang merebus batu untuk menenangkan anaknya. Subhanallah, mengetahui hal itu khalifah Umar langsung pergi mengambil sekarung gandum dari baitul maal kaum muslimin. Dipanggulnya sendiri karung gandum itu dengan punggungnya. Lalu diserahkanlah pada sang ibu untuk dimasak dan dapat mengenyangkan perut anak-anaknya.

Ini yang pada dewasa ini sulit ditemui, sekalipun bertengger pada dirinya ‘gelar’ aktivis. Permasalahan terberat dari umat adalah seputar sandang, pangan, dan papan. Itu baru qadhaya kebutuhan fisik. Belum lagi dahaga moral dan ruhani mereka yang perlu diberi minum agar tak berlama-lama kehausan. Bisa dibayangkan perubahan dan perbaikan seperti apa yang kita inginkan jika kita tak pernah datang menemui masyarakat secara langsung, mengenalkan mereka pada Islam yang kaaffah dan juga membantu mereka dalam hal sandang, pangan, dan papan dengan kepedulian kita.

Kepedulian ini harus terus dipupuk agar menjadi karakter setiap muslim, terutama seorang aktivis. Karena aktivis muslim yang menyerukan kebaikan harus memiliki prinsip alqudwah qabla ad-da’wah, memberi teladan pada a’dho sebelum mendakwahinya.

Hal terakhir yang harus kembali kita pahami bersama adalah bagaimana masing-masing diri dan jiwa kita kembali kepada Allah subhanahu wata’ala. Kita kembali mendekatkan kembali diri kita kepada Sang Pencipta. Karena dia yang menciptakan kita maka Dia pula yang tahu seperti apa kita, apa yang harus kita lakukan, dan keputusan terbaik apa yang harus kita ambil.

Kita mungkin pernah mengatakan bahwa diri kita sibuk sehingga lupa memperhatikan ruhiyah kita, lupa dengan tilawah, lupa dengan sholat awal waktu, lupa dengan zikir, lupa dengan infaq, hingga akhirnya itu semua menyebabkan kemalasan kita untuk bangun malam hari menegakkan qiyamullail. Padahal bagi seorang muslim yang istiqomah, qiyamullail ibarat senjata yang dapat menembus hati para a’dho ketika ia berdakwah. Disinilah ruh perjuangan membela Islam itu. Kita kembali menggelorakan semangat untuk menjaga dan meningkatkan stabilitas ruhiyah kita.

Muharram 1430 H ini adalah gerbang awal perubahan itu. Saat masih ada kesempatan yang diberikan mari kita bersama-sama untuk kembali kepada prinsip-prinsip dakwah ini, back to asholah. Ada 4 hal yang mesti kita kembalikan yaitu back to tauhid, back to manhaj, back to ummah, dan kembali memperhatikan stabilitas ruhiyah kita. Karena tanpa itu perjuangan yang kita lakukan hampa, pengorbanan yang kita persembahkan pun sirna. Bisa jadi perjuangan dan pengorbanan yang kita lakukan untuk mengembalikan kejayaan Islam di dunia ini terkotori oleh hawa nafsu duniawi yang tak lepas dari harta, tahta, dan wanita. Wallahua’lam.

Iklan