Oleh Abu Dzar Al-Ghifari |  17 Januari 2009 20:21 wib


S

ejenak kita duduk untuk sedikit merengungi perjuangan kita selama setahun lalu. Perjuangan yang cukup panjang dan melelahkan. Perjuangan yang meminta cukup besar pengorbanan dari diri kita. Perjalanan yang tanpa ada keikhlasan, keridhoan, dan ketawadhuan diri ini, niscaya tak akan mungkin terjadi.

Saudaraku, secara kasat mata mungkin orang lain akan memandang aktivitas kita selama ini sebagai sesuatu yang tidak berguna bahkan dibilang bodoh, gak ada kerjaan, atau komentar-komentar negatif lainnya tanpa didasari ilmu yang benar dan kepekaan hati nurani. Tapi bagi kita, saudaraku, tentunya perjuangan ini kita pandang jauh berbeda dari mereka. Ada hal-hal yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata hingga itu menjadi api yang membakar bara semangat dalam diri kita untuk terus berjuang.

Saudaraku, Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam surat Al-Zalzalah ayat 7, “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.” Cukuplah bagi kita firman Allah ini sebagai janji yang haq dan pasti akan ditepati-Nya,

“(yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” (TQS. Ali ‘Imron : 172)

Saudaraku, dalam perjalanan juang ini banyak masukan, motivasi, dan pendidikan bagi kita untuk menguatkan keimanan kita kepada Allah. Dan ini merupakan ikhtiar bagi kita untuk menguatkan kesatuan di antara kita, yang tak pernah kenal sebelumnya dan kini dipertemukan dalam medan juang ini.

Sedikit merenungi perjalanan perjuangan kita selama satu tahun ini, waktu demi waktu, langkah demi langkah, detik demi detik, dan kejadian demi kejadian. Rasanya begitu mahal dan indah perjalanan ini. Disaat kita berjalan beriringan bersama saudara seperjuangan, disaat banyak permasalahan yang muncul di perjalanan yang harus diselesaikan secara bersama-sama. Ketika kita sama-sama harus menanggun beban saudara kita yang lain, disaat ego (kepentingan) pribadi harus dibuang jauh-jauh, dan kepentingan umat yang diutamakan. Saat itulah kita merasakan persaudaraan yang sejati, dan kesolidan tim yang sesungguhnya.

Saudaraku, saat kita berjuang sejak maret tahun kemarin hingga sampai di penghujung Sidang Umum ini, sungguh merupakan perjalanan yang cukup melelahkan bahkan mungkin begitu berat bagi sebagian kita. Dengan bekal seadanya, pengenalan medan yang sedikit, kita ayunkan kaki kita selangkah demi selangkah untuk sampai pada tujuan dan cita bersama. Namun semua itu seakan terasa lebih ringan karena ada rekan perjuangan yang membuat kita sedikit lupa dengan jauh dan lamanya waktu perjuangan setahun lamanya ini. Tak terbayang jika kita berjalan seorang diri tanpa ada sahabat yang menemani, yang akan menjadi teman berbagi di perjalanan. Namun teman perjalanan bukan segalanya, karena jika tanpa dibarengi dengan kekuatan niat, azzam (tekad) yang kuat dan keimanan yang mantap, niscaya kita tak akan mampu melanjutkan perjuangan ini.

Ada kalanya dalam perjalanan kita menemukan persimpangan jalan, yang jika salah memilih jalan maka berakibat tersesatnya kita dalam perjalanan. Maka sebagai pengembara yang baik, hendaklah kita bertanya pada orang lain. Kadang-kadang kita bertanya kepada seseorang lalu orang tersebut memberikan gambaran yang jelas tentang jalan yang seharusnya ditempuh. Tapi ada juga orang yang kita tanya, bukannya membuat kita paham, tapi justru membuat kita tambah bingung dan tersesat. Maka bertanyalah pada orang yang tepat.

Saudaraku, memang perjuangan ini panjang, berliku, melelahkan, penuh godaan, namun berujung pada sebuah puncak kenikmatan. Surga!! Bukankah surga itu MAHAL?? Dan hanya layak dibeli dengan harga yang mahal pula. Di tengah himpitan dari keluarga untuk segera menyelesaikan studi, serta himpitan ekonomi yang semakin membuat sesak dada kita, di saat yang sama kita harus berjibaku bersama saudara-saudara kita dalam perjuangan yang penuh pengorbanan ini, demi mendapatkan bayaran yang paling mahal yaitu RIDHA ALLAH dan SURGA!! Hanya orang-orang yang kuat saja yang akan sanggup melewatinya untuk kemudian memetik hasilnya.

Jadi sebuah keniscayaan bahwa perjuangan ini harus dipikul secara bersama-sama. Tidak bisa hanya satu orang. Sehebat apapun orang tersebut, niscaya tak akan sanggup bertahan ketika dia berjuang seorang diri. Karena jalan juang ini bukan perjalanan yang hanya satu atau dua tahun saja. Tapi sepanjang ruh masih dalam jasadnya, maka tanggung jawab itupun tak akan lepas dan takkan kita lepaskan dari pundak kita. Maka kita butuh rekan seperjuangan sebagai tempat untuk berbagi, mengingatkan kita kala kita mulai melenceng, menyemangati kita kala sedang lemah.

Saudaraku, dalam perjuangan ini kita diajarkan bersikap tawadhu. Bertanya ketika memang kita tidak tahu, belajar untuk memahami ketika kita belum paham, dan berani mengakui kelemahan diri untuk kemudian meminta pengalaman generasi sebelumnya agar kelemahan itu tertutupi. Niscaya kita akan menjadi pribadi aktivis yang kuat.

Ada kalanya jalan juang ini begitu indah. Semua urusan dapat dikerjakan dengan lancer dan sukses tanpa hambatan yang berarti, semua atas pertolongan Allah. Namun, ada kalanya pula menemui masa-masa sulit. Urusan seakan menumpuk, tak kunjung selesai. Berbagai hambatan dan gangguan dating bertubi-tubi seakan tak member kesempatan kita untuk bernafas. Ada kalanya pula kita mengulang perjalanan, berbalik ke belakang memulai dari awal. Berat rasanya hati ini ketika harus mengulang kembali apa yang pernah kita garap dengan pengorbanan yang tidak sedikit, tapi itulah jalan yang harus ditempuh. Belum lagi ditinggal saudara seperjuangan, disaat mahasiswa mulai apatis pada BEM, dan disaat tidak ada lagi sahabat yang dapat meringankan beban di pundak kita, dan disaat tidak ada lagi saudara yang mengingatkan kita. Maka ketika kita jauh dari sumber kekuatan, yaitu Allah ‘azza wa jalla, niscaya kita akan terhempas dari jalan ini. Karena itu, kuatkan keimanan kita kepada Allah, sebab itulah sumber utama kekuatan kita.

Ketika kita sanggup melewati ujian-ujian tersebut dan tetap komitmen di jalan juang ini hingga nafas terakhir kita, niscaya Allah akan memenuhi janji-Nya, yaitu SURGA !!

Iklan