by burhanshadiq

Kalau dulu, menjadi seorang ikhwan (bukan anggota ikhwanul muslimin, bukan juga yang lain-lain, tapi ikhwan menurut persepsi saya) adalah sebuah amanah yang sangat besar. Mereka yang sudah tersaring hingga fase ini adalah lelaki-lelaki yang terdidik dan terbina keislaman secara baik.
Militansinya jelas, loyalitasnya pun juga jelas, aktivitasnya pun juga jelas.
Militansi yang saya maksudkan bisa berujud pada kegigihan mereka mempertahankan prinsip hidup. Tidak mudah luluh hanya karena ancaman dunia, tidak juga gampang gentar ketika disulut pertikaian, baik karena perbedaan aqidah maupun keyakinan hidup. Mereka tegak berdiri, meskipun orang-orang yang dia cintai harus mengasingkan dia dari pergaulan. Militansi mereka terbimbing oleh ustad-ustad yang hanif dan mukhlis.
Tidak dikenal ustad yang memasang tarif dalam setiap kali memberi tausyiah. Tidak juga dikenal ustad yang manja harus dijemput bila mengisi sebuah halaqah. Tidak ada juga cerita ustad yang perlente, berpenampilan ala artis yang klimis. Mereka sederhana, kuat hujjahnya dan mengena di hati. Berkumpul dengan orang-orang semacam ini menghidupkan semangat beramal dan menghidupkan hati yang sedang gersang.
Saya ingin kembali membahas tentang militansi. Sebuah amal hati yang saat ini sulit ditemui. Tidak manja dan suka menuntut fasilitas. Tapi bersahaja dalam setiap keterbatasan fasilitas. Hitung-hitungan hidupnya bukan pada sejauh mana laba didapatkan, namun sejauhmana amal dia akan mendatangkan ridha Allah SWT. Militansi untuk tidak bergabung bekerja dengan thaghut, tidak makan sembarang makanan, tidak memanjakan diri dengan kenikmatan-kenikmatan dan membiasakan diri dengan hidup sederhana tanpa kemewahan.
Kini, sosok-sosok ikhwan semacam itu telah pudar. Berganti dengan ikhwan atau bakwan, pseudo ikhwan, ikhwan jadi-jadian, yang berhenti di ranah tampilan fisik, dan mencukupkan diri dengan pemahanan agama dan amal yang terbatas. Sungguh miris hati ini saat melihat ikhwan yang justru dikenal karena ketidakprofesionalannya. Setiap kali mendengat kalimat ikhwan disebut, malah teringat sikap-sikap tidak mengenakkan, utang tidak dibayar, janji yang dikhianati, bocor suka membuka aib orang, licik, dan sebarek sikap-sikap error yang lain. Tragis!
So? What Is The Solution
Masalah ini harus disikapi dengan seksama. Komunitas dakwah harus memperketat jalur pengkaderan, agar tidak ada ikhwan oknum atau oknum ikhwan yang menjelma menjadi setan ketika kesempatan di depan mata. Proses pentadbiran harus dilakukan dengan penggemblengan yang maksimal. Para asatidz yang bekerja di ranah pengkaderan harus profil-profil yang tegas dalam mendidik, bisa dijadikan teladan dan bukan malah menjadi justifikasi dari keteledoran mengamalkan islam.
Sistem pengkaderan harus disettting bukan memprioritaskan jumlah massa yang banyak, namun lebih ditekankan pada kualitas personal. The dream team bukan ribuan, tapi hanya puluhan tapi dengan kualitas andalan. Meskipun mereka yang handal bisa berjumlah ribuan pada akhirnya nanti.
Mekanisme hisbah di dalam komunitas dakwah juga harus digalakkan. Membiarkan seorang ikhwan berbuat dosa, sama saja membiarkan dia masuk dalam jurang kebinasaan.Sehingga team kontrol pun harus jelas siapa yang akan memberi peringatan. (Tumben Serius banget…)

Iklan