Oleh Abu Dzar Al-Ghifari | 3 Februari 2009 09:54 WIB

Suara dering tanda sms terdengar kencang di meja, tempat saya meletakkan handphone. Saya buka dengan perasaan yang gelisah. Dalam hati saya berkata, “Siapa yang sms dan ada apa? Begitu pentingkah?” Pertanyaan-pertanyaan berkecamuk dalam hati. Terjawablah kegelisahan saya. Sms itu berasal dari teman saya bunyinya,

“Asl. akh, ana sedang suka dengan seorang wanita.” Kaget bercampur sedih saat membacanya.

“Akhi fillah, suka pada seorang wanita adalah fitrah bagi seorang laki-laki. Tapi ini bisa menjadi fitnah bagi antum dan dakwah. Akhi, siapa wanita yang antum sukai itu?” balas saya.

Dijawab olehnya, “Dia teman sekantor ana akh.”

Saya tersenyum sesaat lalu sedikit tertawa seraya berdoa, “Ya Allah, jagalah saudaraku ini dari setiap fitnah dunia. Berilah ia petunjukmu.” Setelah itu saya termenung sesaat. Mencoba berpikir apa yang terbaik untuknya agar fitnah lenyap dari dirinya dan dakwah ini. Terpikir dalam pikiran ini untuk memberikan solusi terbaik untuknya yaitu menikah tapi itu berarti saya harus bertanggung jawab. “Ah, biarlah saya harus turun juga. Pokoknya saya harus membantunya untuk keluar dari permasalahan ini”, pikir saya.

Akhirnya saya memberanikan memberikan usulan saya, “Akhi fillah, Islam telah memberikan pilihan atas masalah ini: tinggalkan atau halalkan. Usul ana jika antum tidak bisa memendam rasa itu lebih baik antum menghindar atau perlahan-lahan menjauh dari akhwat itu. Atau jika antum sudah mantap dan yakin, keluarga sudah mendukung, dan financial sudah terpenuhi kenapa tidak antum sempurnakan niat antum sesegera mungkin”

Sepuluh menit berlalu, handphone saya berdering. Ternyata sms balasan dari saudara saya itu, “Akhi ana sudah pikirkan dan bulat tekad untuk menghalalkannya. Ana takut jika rasa ini mendatangkan fitnah. Jika perlu ana akan cari kerja di tempat lain. Atau jika tidak maka ana akan sangat menjaga sekali hubungan ana dengan dia. Semoga Allah membantu ana dalam proses ini. Ana juga sudah buka komunikasi dengan keluarga. Akh, bantu ana untuk bicara dengan murobbi.”

∙∙∙

Saudaraku yang dikasihi Allah…

Sungguh kerinduan yang dahsyat pada suatu masa saat pertama kali mengenal dan sadar akan pentingnya jalan dakwah ini. Saat ketika organisasi adalah tempat kedua paling mengasyikkan. Disana penuh dengan hawa keimanan. Satu sama lain tak ada lagi jarak. Tua-muda saling nasehat-menasehati, saling mengingatkan, dan saling menjaga. Ketika azan berkumandang, semua berhenti dari aktivitas bersegera ke masjid. Ikhwan dan akhwat dalam komunikasi selalu menjaga pandangan dan hati. Memang dulu belum sesemarak ini handphone atau internet, tapi dulu sangat menjaga sekali komunikasi antar lawan jenis. Bahkan ketika bertemu dijalan saling menjauh dan bertamu hanya dari balik pintu. Tidak ada syuro hanya “berdua-an”. Walau di dalam ruangan hijab tetap terpasang sekalipun tidak ada maka tembok adalah hijabnya.

Tapi, kini organisasi atau kantor adalah tempat yang paling tidak ingin dimasuki, hatta ia seorang kader. Mereka sudah mulai pintar melihat kemunduran dari dakwah yang dijalankan oleh suatu organisasi. Ya, mungkin Allah yang memberitahukan pada hati mereka. Ini adalah satu konsekuensi dimana ikhwan-akhwat yang berdakwah di organisasi mulai melupakan dhawabit. Tidak ada lagi batas antara ikhwan-akhwat dengan dalih, “ini kan organisasi umum.” Apakah di organisasi umum bisa sebebas-bebasnya tanpa aturan dalam interaksi? Apakah itu mengartikan bahwa syuro berdua-an itu boleh karena kepepet? Atau sms-an yang sudah kelewat batas dari menggunakan bahasa ikhwah sampai berubah jadi “aku-kamu” dan na’udzubillah sudah pakai kata ganti “abi-ummi”, ini adalah suatu hal yang tidak melanggar dhawabit dakwah? Atau mungkin jalan berdua-an ke pihak terkait dengan dalih tidak ada orang yang mau menemani bukan penyimpangan dalam dakwah?

Saudaraku yang disayangi Allah…

Kini ikhtilat seakan menjadi biasa saja. Tidak usah berbicara pesta walimahan yang tidak dipisah mempelainya, proses pernikahannya pun ada yang rada-rada aneh. Ada yang ‘ngetek’ jauh-jauh hari, ada yang memberi kriteria sangat spesifik, ada yang mengawali proses ta’aruf sendiri, sampai dengan menikah by accident. Ya, by accident bukan dalam arti hamil diluar nikah tapi kecelakaan waktu aktif di organisasi ketahuan punya hubungan ‘dekat’ dengan seorang akhwat. Inilah yang disebut dalam majalah Al-Izzah sekitar 3 tahun yang lalu, CBSA (Cinta Bersemi Saat Aktif).

Cerita tentang CBSA ini ternyata bukan ada sejak 3 tahun lalu, tapi di awal dakwah ini mulai muncul ke permukaan. Sampai ada seorang asatidz dakwah mengungkapkan anekdot CBSA, Cinta Bersemi Saat Aksi. Ya, karena ba’da dari aksi besar tahun 1998 dan 2002 banyak aktivis dakwah yang menikah dengan sesama aktivis juga. Di saat menumbangkan kezhaliman pejabat di pemerintahan, ternyata tumbang pula hati aktivis akibat zhalimnya ia dalam membentengi ruhiyah (hanya segelintir orang saja, daripada ‘pacaran sebelum nikah’ kan mendingan ‘pacaran setelah nikah’…). Namun itu adalah kisah lampau yang menjadi kenangan para ikhwah dan tentunya sebagai pelajaran berharga bagi mereka yang mengetahuinya.

Saudaraku yang dicintai Allah…

Kisah yang diungkapkan di atas adalah kenyataan hari ini dalam dakwah. VMJ sudah menjamur dan sulit dicabut akarnya. VMJ –kini disebut VMD (Virus Merah Darah) karena sudah terlalu banyak kasus ini terjadi- terus merebak di kalangan kader yang masih belum memiliki karakteristik da’i secara utuh. Mereka berada dalam dakwah hanya ‘sekedar’ ikut-ikutan agar dibilag ‘alim’, atau bahkan hanya karena ‘ga enak’ sama teman atau mentornya.

Lalu bagaimana cara mengatasinya???

Mudah dan simple saja untuk mengatasinya. Mari bersama untuk memfokuskan kembali kepada kualitas pembinaan dan kaderisasi dalam dakwah ini. Mulailah hilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang hanya berorientasi pada kuantitas tanpa menghiraukan persiapan dalam membina dan mengkader. Apabila kualitas pembinaan dan kaderisasi dalam dakwah ini baik maka tidak mungkin terdengar senyaring hari ini kisah-kisah seperti ini. Sudah banyak yang memberikan taushiah dan taujih bahkan juga ma’lumat, tapi tidak ada perubahan. Tentu bukan hanya kesalahan aspek tanzhimi tapi lebih besar pada aspek individu secara suluk dan akhlaq.

Selain itu, aspek pengorganisasian (tanzhimi) serta regenerasi (taurits) juga mempengaruhi seberapa ‘kuat’ mental dan kepribadian dari seorang da’i yang terbentuk. Insya Alloh bila dua aspek di atas diperhatikan oleh setiap pengemban risalah dakwah yang diberi tanggung jawab dalam mas’uliyah maka lambat laun perubahan menuju da’i-da’i yang muntijah dan professional akan terwujud.

Wallohua’lam.

Iklan