Oleh Abu Dzar Al-Ghifari    23: 21 WIB

Zahra, nama anakku. Ya, Zahra Ainun Fii Jannati. Seorang wanita yang sedang tumbuh menjadi dewasa. Kini ia sudah duduk di kelas 4 SD. Sudah banyak yang ia pertanyakan tentang segala hal yang ada di sekitarnya. Mulai dari pertanyaan yang mendasar dan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku konyol hingga aku sulit untuk menjawab semua itu.

Seperti di hari itu, anakku bertanya di saat aku sedang ber-tajarrud di depan cermin riasku. Ia bertanya dengan polos sambil menggerakkan kedua lengannya bergantian, “Ummi, kenapa sih kaca itu membalikkan tangan Zahra padahal kan Zahra gerakkin tangan kiri, kok di cermin malah tangan kanan?” Kaget kudengar pertanyaan itu dari anak berumur kurang dari 10 tahun.

“Itu namanya cermin sayang. Bukan kaca biasa. Dia bisa memantulkan bagian tubuh kita yang masuk ke cermin. Jadi kalau kamu gerakkin kepala kamu ke kanan, di cermin terlihat berlawanan arah. Makanya tadi kamu lihat tangan kanan di cermin padahal kamu gerakkin tangan kirimu,” jawabku dengan susah payah dan berharap anakku mengerti apa yang kujelaskan.

“Tapi kenapa bisa begitu? Memang cermin dibuatnya beda ya sama kaca??” tanya anakku kembali ingin tahu.

“Bahannya sama sayang. Tapi ada yang beda antara cermin dengan kaca yang ada di jendela. Kalau kaca di jendela itu bening di bagian depan dan belakang. Tapi kalau cermin, di bagian belakangnya dilapisi penutup agar tidak bisa tembus cahaya. Contohnya seperti ini…,” jelasku sambil kuperlihatkan bagian belakang dari cermin hiasku.

“Nah, sekarang coba kamu lihat wajah kamu di cermin. Cantik tidak wajah anak ummi?” candaku.

“Hmm… coba lihat mi. Cantik dong kan anak ummi,” jawabnya sambil menyium pipi kananku lalu berlari meninggalkanku.

“Subhanalloh, ternyata aku telah memiliki anak yang semakin tumbuh dewasa hingga dengan melihatnya saja sudah dapat membuatku berpikir banyak hal,” bisikku dalam hati.

“Cermin ini telah mengingatkanku akan umurku. Cermin ini juga mengingatkanku tentang bagaimana hidup sederhana dan tidak berlebihan. Cermin ini mengajarkanku untuk tidak mudah menyalahkan orang lain dan menganggap diri lebih baik dari yang lain. Ya, cermin ini memberiku pelajaran berharga di pagi ini,” pikirku.

Alhamdulillahilladzi sawwa kholqi fa’adalahu wa karomahu shurota wajhi fa ahsanahaa waja’alani minal muslimin. Segala puji bagi Alloh yang menyempurnakan kejadianku dan memperindah serta memuliakan kejadianku dan memperindah serta memuliakan rupaku lalu membaguskannya dan memasukkan aku ke dalam bagian kaum muslimin. Amin..” doaku dalam hati. Tak terasa air mata telah membasahi pipiku.

Kejadian di pagi itu telah mengingatkanku pada-Nya. Sungguh di hari itu aku merasa sangat bersyukur telah dikaruniakan seorang anak yang pintar dan dapat memberikan tadzkiroh bagiku agar sentiasa mengingat-Mu. Hari itu anakku hanya bertanya tentang cermin, lantas aku teringat pada kekuasaan-Mu ya Alloh.

Ya, dimana cermin itu mengingatkan aku akan kematian yang pasti datang menghampiri. Kulihat wajahku yang semakin menua di cermin. Kupegang bagian pipi yang dulu halus kini mulai agak mengerut dibagian tertentu. Mataku pun sudah tidak dapat melihat jauh dan tulisan yang kecil, padahal dahulu mataku ini normal dan dapat membaca tulisan yang kecil di koran. Namun, kini semua itu tak ada lagi pada diriku. Sedikit demi sedikit nikmat itu telah kembali kepada pemilik-Nya. Nikmat itu hanya sebentar mampir di tubuhku lalu ia pergi tak kembali.

Cermin itu juga mengajarkanku untuk hidup sederhana. Solekan yang berlebihan jika keluar rumah bisa kuhindari saat ku lirik di cermin. Perhiasan yang mungkin ingin kupamerkan di hadapan orang banyak juga kembali kulepas karena aku tahu tidak akan mungkin ada yang melihatnya di balik jilbab yang kukenakan ini. Kecuali perhiasan ini mempercantikku di hadapan suamiku saja. Cermin ini begitu objektif memberikan penilaian padaku. Sehingga aku kini berusaha untuk hidup dalam kesederhanaan yang selaras dengan rezeki yang Alloh berikan pada kami.

Tak sampai di situ, ternyata cermin mengingatkanku akan satu hal yang sangat penting hari itu. Ya, aku ingat untuk tidak berpikir bahwa apa-apa yang kukatakan dan lakukan adalah yang paling baik dan benar. Ketika wajah ini terlihat di cermin, aku semakin sadar bahwa tidak ada yang dapat aku sombongkan. Wajah ini Alloh ciptakan dengan bahan yang sama dengan orang lain, lantas mengapa aku menganggap diriku superior. Padahal di balik wajah ini aku menyimpan banyak sekali aib keburukan yang tidak diketahui oleh orang lain. Bisa saja dengan mudah Alloh buka di hadapan orang banyak suatu saat nanti. Sungguh tak ada kebenaran di dalam kesombongan.

Iklan