Oleh Abu Dzar Al-Ghifari | Now See Heart

Telah lama ia dinantikan. Telah banyak manusia yang merindu kehadirannya. Hingga kini saat semua manusia mengetahui akan kedatangannya. Semua bersama-sama berderap berusaha menyambutnya dengan sambutan yang terbaik. Laiknya Islam mengajarkan tuan rumah menyambut tamunya. Apapun yang dimilikinya dipersiapkan untuk menjamunya.

T

idak lama lagi, tamu yang ditunggu-tunggu kehadirannya akan hadir di tengah-tengah kita. Tamu yang mulia, bulan agung yang selalu dinantikan sepanjang tahun, sepanjang hari dan malam, untuk memperbaharui keimanan kita, memperkokoh semangat kita, menguatkan azimah, melepaskan beban keraguan dn kesulitan dunia, membersihkan kotoran-kotoran jiwa dan penyakit hati.

“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (TQS. Al-Baqarah : 183). Bagi seorang muslim, ketaqwaan adalah tujuan yang ingin dicapai dalam hidupnya. Harapan yang tertancap dalam hati dari ibadah di bulan yang mulia ini, bahwa dengan puasa dia mendapatkan ganjaran dan pahala yang terbaik di akhirat nanti dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi, “Setiap amalan anak cucu Adam miliknya kecuali puasa, dia adalah milik-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjarannya.”

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, dan Al-Qur’an adalah dustur ilahi yang kekal, yang dengannya kita berhukum. Dr. Muhammad Mahdi Akif dalam risalahnya menuliskan, barang siapa berkata dengannya akan benar, barang siapa yang berhukum dengannya akan adil, barang siapa yang menyeru kepadanya akan diberikan petunjuk ke jalan yang lurus, dan barang siapa yang mencari pada selainnya akan disesatkan Allah. Al-Qur’an adalah tali Allah yang amat kokoh, cahaya yang nyata, yang menyebabkan kegelapan hati akan diterangi olehnya, kegelisahan akan terangkat olehnya. Para salafus shalih banyak berpegang teguh kepadanya sehingga mereka mampu mengisi dunia dengan keadilan dan rahmat, cahaya dan barokah.

Ramadhan adalah bulan jihad. Di bulan inilah Rasulullah Saw dan kaum muslimin menghadapi peperangan pertamanya, yaitu perang Badar. Perang yang memberikan pelajaran yang teramat sangat penting bagi perjalanan risalah dakwah. Perang Badar mengajarkan kepada kita tentang kedisiplinan, pengorbanan, siyasat, dan ketaatan. Peperangan yang dialami kaum muslimin tercatat lebih banyak dilakukan pada saat bulan Ramadhan dan tercatat pula kemenangan di dalamnya. Di saat berpuasa mereka meneriakkan kalimat takbir hingga meningkatkan cahaya iman dan menggelorakan jiwa serta semangat kaum muslimin hingga kemenangan diraih.

Ramadhan adalah bulan kebaikan. Setiap perilaku kebaikan manusia akan Allah Ta’ala lipat gandakan ganjaran dan pahalanya, satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali. Rasulullah Saw pernah sehabis memimpin shalat beliau tergesa-gesa bangkit lalu masuk ke dalam rumahnya. Sekembalinya Rasulullah di masjid, para shahabat bertanya perihal ketergesa-gesaan itu. Lantas para shahabat paham setelah Rasulullah menjelaskan bahwa beliau gelisah karena ia teringat ada uang sebesar dua dirham yang masih tersimpan di rumah yang belum ia infakkan. Di bulan Ramadhan, Rasulullah Saw meningkatkan kedermawanannya, seakan beliau seperti angin yang bertiup, yang selalu memberikan sesuatu seakan tidak takut miskin. Begitulah seharusnya kondisi umat Islam saat ini, yang kaya mau menginfakkan hartanya kepada fakir miskin, demi menutupi rasa lapar mereka, menutupi tubuh mereka yang terbuka dan mengobati mereka yang sakit. Jikalau ini terwujud, gotong-royong dan saling mengasihi, akan memperkokoh masyarakat dan persatuan umat dalam menghadapi berbagai kesulitan dan rintangan.

Ramadhan juga merupakan bulan perbaikan. Bulan yang menjadi awal langkah perbaikan dan pengokohan karena barangsiapa yang mampu melakukan perbaikan diri maka akan mampu mewujudkan perbaikan dalam medan kehidupan dan amalnya. Imam Syahid Hasan Al-Banna pernah berkata, “Ladang kalian adalah jiwa kalian, jika kalian mampu memenangkannya maka terhadap orang lain akan lebih mampu.” Seorang muslim yang mampu menguasai jiwa dan syahwatnya, melatih dirinya dalam memperkokoh keimanan dan menguasai diri akan hal-hal yang berlebihan, akan mewujudkan prestasi-prestasi dalam kehidupan.

Bulan Ramadhan adalah karunia dari Allah Ta’ala untuk umat manusia. Bulan Ramadhan juga merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mempergunakan dengan sebaik-baiknya adalah yang terbaik dalam menyikapi hadirnya tamu agung ini. Manfaatkanlah waktu di bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Ambil pelajaran-pelajaran di setiap waktu untuk menguatkan keimanan, memperbaharui bai’at kepada Allah, memenuhi janji kepada agama ini, ikhlas untuk umat dan mampu melakukan perbaikan, perubahan, dan nasihat semampu kita melakukan dijalan-Nya.

Mari mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Bila di kalangan manusia dalam menyambut kehadiran seorang tamu penting dipersiapkan dengan meriahnya. Maka apatah lagi yang menjadi alasan bagi kita untuk tidak mempersiapkan segala sesuatunya demi menyambut tamu agung ini? Bulan mulia yang tak pernah terpikirkan dalam pikiran manusia bahwa setelah Ramadhan tahun ini berakhir, jiwa ini akan menemuinya lagi di tahun depan. Rasulullah Saw dalam menghadapi kedatangan bulan Ramadhan selalu mempersiapkan sejak dua bulan sebelumnya, yakni bulan Rajab dan Sya’ban. Beliau lebih menyeringkan kembali puasa sunnah, qiyamullail, dan berinfak. Dan beliau sentiasa berdo’a, “Allahumma Bariklana fii Rajaba wa Sya’ban wa balighna Ramadhan.” Wallahu a’lam.

Iklan