Oleh Abu Dzar Al-Ghifari

Tak terasa malam ini adalah malam pertama bulan Ramadhan di tahun 1431 Hijriah. Walaupun penentuan 1 Ramadhan dibeberapa daerah berbeda-beda sesuai dengan perhitungan falakiah yang dipahaminya, tapi semua berjalan dengan baik. Semoga Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan yang terbaik semasa hidup kita. Amin.

Saudara-saudariku sekalian,
Sudah selama 2 bulan lebih ini saya mengamati perkembangan para aktivis di sekitar. Beragam dan unik satu sama lain. Satu orang punya kelebihan yang dapat menutupi kekurangan yang lainnya, begitu pula sebaliknya. Semua memiliki ciri khas tersendiri. Akan tetapi, ada satu kesamaan di antara mereka akhir-akhir ini.

Apa itu??? Mereka ramai-ramai update status di jejaring sosial yang digeluti. Bahkan dalam pengamatan saya, tiap hari mereka buka dan update status mereka. Seperti tak mau ketinggalan berita penting dari ‘update status’ kawan-kawan lain di jejaring. Diantara mereka pun ada yang menjadi pengguna setia jejaring, mulai dari hape hingga homepage Mozilla. Seakan-akan semua berlomba-lomba menjadi yang tereksis di dunia maya tersebut.

Padahal, huffhh……

Ya, tadi malam seusai sholat tarawih saya ditanya seorang kawan.
“Internetnya lagi bermasalah ya? Kok ga bisa buka internet?” tanya kawan saya. “tadi pas kamu pergi sholat isya’, internetnya mulai ga konek padahal sebelumnya ga ada masalah.”

“Coba saya cek dulu server atau routernya, mungkin ada yang perlu dibetulkan. Atau ada gangguan untuk hosting international..” jawab saya sekenanya. Saya coba masuk ke dalam ruangan yang berisi server, router LAN dan Wi-fi. Ternyata setelah saya cek, semua berjalan normal. “Mungkin sedang ada gangguan dari server utamanya. Biasanya mereka akan telpon kalau saja jaringannya bermasalah,” jelas saya.

Setelah itu saya duduk bersama kawan-kawan saya. Disana ada dua orang. Satu orang sedang asyik menggunting kertas, sedangkan satu lagi sedang berusaha keras membuka internet karena sudah 30 menit lebih jaringan bermasalah. Tiba-tiba dia nyeletuk, “Duhh, lagi asyik-asyiknya juga baca kiriman dari teman.. Eh ga tahunya bermasalah jaringannya.. Hmmm..”

Dari kata-kata kawan saya itulah, dalam pikiran saya berkecamuk pertanyaan-pertanyaan. Pertama, apakah sampai seperti ini para aktivis bila sudah kenal dengan internet dan jejaring sosial sampai rutinitasnya melebihi tafakkur mereka pada qur’an? Kedua, apakah hari ini sudah semakin sedikit yang ingin tahu bagaimana kabar dan berita saudara-saudara seiman di Palestina dan belahan dunia lain? Bagaimana jika mereka butuh bantuan tapi kita tidak pernah mau tahu? Apakah sesama muslim pantas acuh tak acuh pada saudaranya yang lain apalagi saat membutuhkan pertolongan? Subhanalloh..

Ikhwah fillah,
Akhirnya spontan saya melontarkan pertanyaan kepada kawan saya, “Udah tahu perkembangan info dari palestina bulan ini,” tanya saya penuh selidik. “Tahu, kondisi saudara-saudara kita di Gaza saat ini sedang merasakan kegelapan dan kelaparan? Bahkan sudah 4 tahun berlangsung dan tahun ini adalah yang terparah. Sampai mereka berdoa, ‘Ya Alloh berikanlah kemampuan dan kemudahan pada kami untuk berpuasa di bulan ini di antara kejutan-kejutan berkah Ramadhan tahun ini’.”

“Ngga’, belum tahu.. Ada berita apa?” jawabnya.
“Subhanalloh, sudah sampai seperti inikah kondisi para aktivis?? Kalau tidak salah, mereka adalah pelopor saat berteriak ‘Bebaskan Al-Aqsha’. Tapi…” tanyaku dalam hati, terenyuh.

Kujawab dan kujelaskan dengan sabar informasi yang kudapat dari infopalestina.com dan dakwatuna.com dalam bulan ini seperti kujelaskan di atas. “Di sana, anak-anak Gaza seperti sedang ‘diracuni’ oleh zionis Israel agar melupakan tugas dan cita-cita utama mereka yaitu membela tanah air mereka dari penjajah zionis. Kenapa begitu? Mereka sekarang disuguhi mainan baru berupa laptop dan komputer dengan harga murah. Anak-anak Gaza sekarang lebih sering berada di depan internet untuk browsing, chatting, facebook, twitter, bahkan download games. Subhanalloh, itulah zionis yang tidak akan pernah rela sampai seluruh manusia mengikuti keinginan mereka,“ tambahku.

Pembicaraan singkat itu diakhiri dengan suasana hening dan wajah yang tertekuk. Entah malu atau merasa tersadar dan akan berubah di masa mendatang.. Atawa hanya pengingatan sesaat saja.

Ikhwah fillah,
Saudara-saudariku yang dirahmati Alloh Ta’ala, Ramadhan sudah mulai dijalani. Apakah tak ada bedanya antara hari-hari biasa dan Ramadhan? Apalagi urusannya dengan jejaring sosial semisal facebook dan twitter. Kalau sesekali sekedar lewat hape untuk update status mungkin tidak masalah. Tapi jika sudah masuk pada tindakan berlebihan (isrof) maka hal ini menjadi suatu hal yang harus dihindari. Ya, berlebihan dalam hal yang diperbolehkan (mubah).

Tak habis pikir jika update status dari kawan-kawan di jejaring sosial dibaca dengan antusias dan menggebu-gebu. Kenapa tidak mudah bagi kita untuk antusias mengetahui update status dari saudara-saudara kita di Palestina dan belahan bumi lain? Atau sekedar tahu kondisi ummat islam di Indonesia dan sekitar kita lewat video streaming/cuplikan berita/artikel dari banyak web stasiun televisi swasta Indonesia.

Iklan