Alkisah hidup seorang anak kecil dan pohon apel. Pohon apel ini sudah hidup sejak lama, sebelum anak kecil itu hadir. Selepas anak kecil itu bermain, pasti dia datang pada pohon apel untuk sekedar melepas lelah. Karena seringnya bermain, anak kecil dan pohon apel itu berteman.

Sampai pada suatu ketika, anak kecil itu datang dengan wajah sedih. “Aku sedang sedih, maukah kau menghiburku?,” jelasnya pada pohon apel. Lantas pohon apel sedikit mengerutkan diri kemudian ia berkata, “Ohh, kalau itu sih gampang. Sekarang kau bermainlah di atasku. Naiklah ke batangku, lalu kau bisa bermain sambil bermain di dahan rantingku dan kau bisa bermain sambil kau memakan buahku…” Anak kecil itu tak terkira gembiranya saat mendengar jawaban pohon apel. Bermainlah ia di atas pohon apel hingga tertidur karena letih.

Kejadian itu berulang hampir setiap harinya hingga anak kecil itupun tak takut lagi bila tertidur dan tak pulang sampai larut malam. Entah kenapa, setelah anak kecil itu beranjak remaja sudah jarang sekali ia datang ke pohon apel itu. “Ahh.. mungkin ia malu bermain lagi denganku,” pikir pohon apel dalam benaknya. Tapi pikiran itu serta merta ia buang jauh-jauh karena ia mendengar suara anak kecil itu memanggil namanya sambil berlari. “Ohh, itu dia datang,” lenguhnya.

Namun pohon apel itu kaget bukan main, karena ternyata anak itu datang sambil menangis. “Aku mau mainan, cuma aku tidak punya uang,” celoteh anak kecil itu disela-sela tangisnya. Pohon apel mendengar itu luluh hatinya, walau ia sebelumnya kesal dan marah karena sekian lama ia tak pernah dikunjungi. Dengan penuh kelembutan ia menjawab, “Aku tak punya apa-apa wahai anakku, tapi aku punya buah apel. Silahkan kau ambil untuk kau jual. Uang yang berhasil kau kumpulkan bisa kau gunakan untuk membeli mainan keinginanmu.” Anak kecil itu bukan main senangnya, ia lompat setingginya. Lalu didekapnya batang pohon apel itu seraya menaikinya.

Lagi-lagi si pohon apel harus menerima takdirnya kalau ia ditinggalkan lagi. Anak kecil itu sudah tidak pernah datang bermain dengannya. Saat kenangan itu datang, pohon apel meneteskan air mata. Ia ingin kebahagiaan itu datang kembali, tapi ia tak mampu memintanya. Ia sadar bahwa ia hanya pohon apel yang tugasnya memberi buah kepada yang ingin, tidak lebih. Terdengarlah oleh pohon apel bahwa anak kecil itu sudah menikah. Ia kini sudah memiliki istri yang dicintainya.

Tetapi, tak lama ia dengar kabar itu. Tak lama pula anak kecil itu datang kepadanya. Ia datang dengan penuh kesedihan. Ia datang dengan penuh keluh kesah. Kedatangannya kali ini ingin meminta solusi dari pohon apel tentang keinginannya memiliki rumah sendiri bersama istrinya. Lalu pohon apel menjawab sekenanya, “Bukankah semua buahku sudah kau ambil untuk membeli mainan saat kau remaja??” Anak itu pun terdiam sejenak lalu berkata, “Betul, tapi tidak adakah solusi lain yang bisa kau berikan padaku? Aku tidak ingin istri dan anak-anakku nanti tidur dibawah pepohonan atau di jalanan.” Sekarang pohon apel yang termenung mendengar perkataan anak itu. Lalu anak kecil itu sontak kaget karena tiba-tiba pohon apel itu meneteskan air mata. “Kenapa kau menangis? Apa permintaanku terlalu berat?” tanya anak itu. “Tidak, tidak. Bukan begitu, aku hanya sedih saja karena setelah kemarin aku kehilangan buahku sekarang aku akan kehilangan rantingku,” jawab pohon apel. “Bawalah ranting-rantingku untuk membuat rumah idaman keluargamu.”

Tak lama setelah itu, pohon apel sudah tak lagi menangisi apa yang hilang darinya. Dalam hatinya ia ingin selalu menunggu apa yang bisa diberikan kepada anak itu agar ia bahagia. Akhirnya betul, setelah menjadi keluarga seutuhnya dengan memiliki istri dan anak-anak. Ia datang kepada pohon apel. Ia meminta sebuah mobil agar ia dan keluarganya bisa bepergian kemana mereka suka. Dengan suka cita penuh duka, pohon apel mengatakan, “Silahkan kau ambil dahan-dahanku untuk kau jadikan mobil.”

Dengan keasyikan barunya, anak kecil yang kini telah dewasa dan telah menjadi bapak kemudian meninggalkan pohon apel itu kesekian kalinya. Hingga datang suatu hari, kulit anak itu telah keriput dan matanya sudah agak kabur. Ia datang dengan gontai. Bukan karena sedih tapi lantaran ia jenuh dan ingin istirahat. Ia ingin sekali berlibur mengarungi samudera luas ini dengan kapal agar ia bisa menghilangkan penat selama hidupnya. Mendengar itu, pohon apel pun memberikan apa yang dimilikinya terakhir kali. “Nak, silahkan kau ambil batang pohonku. Ambillah secukupnya agar kau bisa wujudkan impianmu mengarungi samudera. Tapi ingat satu hal, kau tak boleh mengambil akarku agar aku masih bisa mencari makanan dan minuman walau hanya sedikit,” jelas pohon apel dengan nada yang lirih.

Setelah perahu selesai dibentuk, anak itu pun mengarungi samudera seorang diri. Di tengah lautan ia begitu gembira karena cita-citanya selama ini terkabulkan juga. Ia berkeliling kemana ia mau. Ia singgahi tempat-tempat yang menurutnya indah. Ia datangi lokasi-lokasi terpenting di dunia ini. Lalu, datanglah hari dimana ia lelah dan letih melakukan itu semua. Ia kembali ke tempat dimana pohon apel itu berada.

Sesampainya disana, anak itu berkata kepada pohon apel, “Andai saja kau ikut mengelilingi dunia bersama ku pasti kau akan berdecak kagum dengan keindahan dunia ini. Hufhhh.. aku lelah sekali saat ini. Biarkan aku istirahat dulu sejenak di atas sisa akar-akarmu.” Pohon apel itu hanya termenung meratapi nasib yang ia terima selama ini. Tak ada tangis sedih, ia hanya bahagia melihat anak itu tertidur di pangkuannya setelah beberapa lama berkeliling dunia. Kalaupun ada air mata menetes, itu tanda ia sayang pada anak itu.

***

Saudaraku, pernah dirimu mengalaminya?

Pernahkah diri kita melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh anak kecil itu?

Tahukah engkau saudaraku, siapakah yang digambarkan oleh pohon apel itu?

 

Ya, benar saudaraku. Anak kecil itu adalah kita. Pohon apel itu adalah ibu dan bapak kita.

Saudaraku, sering tanpa sadar gambaran di atas itu kita lakukan. Orangtua kita -bapak dan ibu- hanya dijadikan tempat mengadu saat kita sulit dan butuh bantuan. Saat kita mengalami kesenangan dan kegembiraan, jarang diri kita memberitahu pada mereka. Entah mengapa, mungkin ada seribu satu alasan yang mengganjal lisan ini untuk berkata di hadapan mereka. Apalagi saat kita sudah berkeluarga dan memiliki anak-anak. Maka bisa dipastikan beberapa diantara kita menjadikan keluarga dan anak-anak sebagai pihak pertama yang merasakan kebahagiaan dan keberhasilan kita. Bahkan ada pula yang menjadikan orangtua kita adalah orang kesekian yang mengetahui keberhasilan yang kita dapatkan, setelah kawan sejawat kita mengetahui dan mengucapkan selamat pada kita.

Saudaraku,

Ini sebagai sebuah tadzkiroh bagi saya dan juga buat kawan-kawan yang sudah berkeluarga, buat kawan-kawan yang sedang merencanakan berkeluarga, dan buat kawan-kawan yang masih lajang. Apakah ibu dan bapak kita menjadi orang yang tak perlu tahu atas keberhasilan kita? Atau mereka hanya perlu tahu saat sulit dan susahnya kita menjalani kehidupan ini?

Hanya hati kawan-kawan yang tahu jawabannya, apakah diri kita ini sudah memperlakukan sebagaimana mestinya ibu dan bapak kita sebagai orangtua? Apakah mereka menjadi bagian utama dalam orang-orang yang kita prioritaskan di kehidupan ini?

Iklan