“… Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” [QS 3:102]

Sebagai seorang insan yang benar-benar beriman kepada Allah SWT hendaklah dia bertakwa dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan yang terwujud dalam kehidupannya secara nyata, dalam tindakan yang mencerminkan ketakwaan kepada Allah SWT. Contoh ketakwaan kepada Allah SWT ini dapat diwujudkan lewat melaksanakan sholat lima waktu tepat pada waktunya dan berjamaah dalam pelaksanaannya, bahkan akan lebih bagus lagi sebelum adzan dikumandangkan sudah mendatangi masjid untuk menunggu saatnya sholat.

Ketakwaan ini kemudian diikuti oleh “… janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” dimana saat seorang muslim diwajibkan untuk menyerahkan segala urusan kita hanya pada Allah SWT sehingga saat ajal menjemput kita serahkan diri kita sepenuhnya.

Ada suatu kisah dimana terdapat seorang pemuda yang luar biasa dalam pengaplikasian ketakwaan diatas. Kejadian ini terjadi pada 1425H, dimana seorang pemuda karena kerinduan dan wujud keikhlasan penyerahan dirinya pada Allah SWT selalu menjalankan sholat lima waktu secara berjamaah bahkan beliau datang pada saat jamaah yang lain belum mendatangi masjid. Beliau sangat mengerti dan paham akan makna dan faedah dari mengumandangkan adzan guna memanggil saudaranya untuk menunaikan sholat berjamaah. Berbekal pengetahuan tersebut beliau selalu datang sebelum waktu adzan dikumandangkan untuk kemudian dapat melakukan adzan setiap waktu sholat telah tiba. Hal ini selalu beliau laksanakan meskipun beliau bukanlah seorang takmir dari masjid yang ditunjuk.

Kebiasaan ini selalu beliau jalani dengan suka cita, sampai suatu saat pemuda mengumandangkan adzan dan saat mengumandakan iqomah beliau terjatuh sebelum menyelesaikan iqomahnya karena tidak kuasa menahan tubuh yang telah dihinggapi penyakit jantung. Langsung saat itu juga beliau diantar ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Namun pada saat beliau hendak diperiksa oleh dokter, pemuda ini kemudian merangkul dokter tersebut seraya berkata “Dokter, sebentar lagi saya akan meninggal jadi dokter tidak perlu repot lagi. Saat ini saya sudah melihat surga yang disiapkan untuk saya dan saya hendak melakukan perjalanan kesana.” Setelah itu pemuda ini mengucapkan dua kalimat syahadat dengan sempurna ditutup dengan bersedekap dan memejamkan matanya.

Subhanallah, sungguh sebuah kejadian yang menggugah hati dan menyentuh kalbu. Kemudian Ustadz Syatori melanjutkan khutbahnya. Beliau menuturkan kisah lain dimana ada seorang pemuda dari keluarga yang biasa namun mempunyai azzam [keinginan kuat] luar biasa untuk menghafal Al-Qur’an sehingga kemanapun pemuda itu pergi pemuda ini selalu membawa Al-Qur’an bersamanya. Suatu waktu beliau mengalami kecelakaan saat sedang melakukan perjalanan dan menderita luka yang sangat parah. Pada waktu kejadian, pemuda ini ditolong oleh dua orang polisi untuk dibawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan itu, kedua polisi ini mendengar suara senandung yang sangat menyentuh. Kedua polisi ini bingung, siapa sebenarnya yang sedang bersenandung. Setelah saling pandang, kedua polisi tersebut menengok ke belakang untuk melihat pemuda yang ditolongnya. Dan Subhanallah, kedua polisi tersebut berdecak kagum dan haru melihat seorang pemuda dengan luka yang sangat parah, kondisi antara setengah sadar ternyata pemuda ini masih mengucapkan firman Allah dengan suara luar biasa merdunya. Setelah beberapa saat akhirnya bacaannya terhenti dan pemuda ini kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat dengan telunjuk menunjuk keatas. Selanjutnya pemuda inipun menghembuskan nafas terakhir setelah mendekapkan kedua tangan dan menutupkan matanya.

Di lain waktu polisi ini menolong korban sebuah tabrakan dimana korbannya adalah dua orang pemuda. Polisi sudah tahu bahwa jika korban kecelakaan yang kritis harus ditalqinkan, maka dengan segera dalam perjalanan menuju rumah sakit polisi ini hendak membimbing kedua pemuda ini untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun yang terjadi membuat polisi ini kaget, saat kedua pemuda ini dibimbing untuk membacakan dua kalimat syahadat, kedua pemuda ini malah menyanyikan lagu yang tidak jelas, yang tidak mampu menolong mereka untuk menghadap Allah SWT. Dalam perjalanan tersebut akhirnya kedua pemuda ini meninggal dengan kondisi yang tidak baik karena bekal yang dibawanya adalah lagu disukainya, bukan kalimat syahadat.

Karena penasaran akhirnya polisi inipun menanyakan kepada kedua orang tua dari kedua pemuda yang mengalami kecelakaan “Kebiasaan apakah yang dilakukan oleh kedua pemuda itu semasa hidupnya?”. Orang tua mereka pun menjawab “Mereka sering menyanyikan lagu-lagu artis yang disukainya.” Masya Allah, apakah kematian yang seperti ini yang akan menjadi keinginan kita? Pertanyaan inilah yang kemudian melintas di pikiranku…

Saudaraku yang kucintai karena Allah, sungguh dua kejadian diatas menggambarkan kejadian yang patut untuk kita cermati dan dijadikan pelajaran bagi kita semua, terutama pemuda. Kisah pertama dan kedua, sungguh luar biasa dimana keduanya mencapai kemuliaan di akhir hidupnya dengan selalu memegang teguh agama ini, yaitu Khusnul Khotimah. Sedang kisah ketiga, sangatlah memprihatinkan dimana kedua pemuda yang fans berat dari sebuah grup musik kemudian dalam akhir hidupnya hanya mampu menyanyikan lagu artis yang disenanginya sehingga harus meninggal dalam keadaan Suul Khotimah.

Banyak pemuda yang saat ini sangat mudah hanyut dalam gelombang keduniawian. Pesona yang luar biasa, selalu menggoda untuk dinikmati dan dinikmati.

Ingatlah saudaraku, hidup ini tidaklah layak untuk dipakai pada hal-hal yang tidak berguna. Manfaatkan waktumu dengan sebaik-baiknya dan siapkan bekalmu mulai saat ini guna menghadap Illahi Robbi. Semoga ringkasan khutbah jum’at yang saya tulis ini dapat memotivasi, menginspirasi serta menyadarkan kita semua para pemuda untuk selalu memberikan dan mendapatkan yang terbaik guna bertemu dengan Allah SWT dengan keindahan kematian yang bernama “KHUSNUL KHOTIMAH”.

Berkahilah kami dan ampunkanlah kesalahan kami yang telah lalu, Ya Robb. Amiiin ya robbal ‘alamiiin…

Oleh : Ustadz Syatori Abdurrouf

Masjid Quwwatul Islam, Sleman Yogyakarta (Jum’at, 16 April 2010)

Sumber : http://mwindriyanto.web.id/2010/04/16/renungan-khutbah-jumat/

Iklan