Kerlingan awan mentari pagi ini begitu menyeruak hingga ia menyibak setiap insan yang termenung. Mengatakan dengan lembut bahwa sang mentari kan segera datang. Cerahkan hari-harimu menuju impian. Deru mesin mulai terdengar bising di pagi itu. Meski perpendaran warna di langit belum lekas hilang. Namun, anak-anak lelaki berseragam sekolah sudah siap di halte menunggu angkutan umum.

Terperangah oleh tingkah seorang wanita tua yang membawa karung besar lengkap dengan besi di tangan kanannya. Ia menelisik masuk tiap tong sampah di rumah-rumah mewah. Tak peduli siapa mereka dan apa yang mereka buang, ia terus saja asyik mengais rezeki. “Ahh kok orang kaya ga buang sampah yang bagus ya. Jorok amat sih..” tukas wanita tua itu menyeringai pada apa yang dilihatnya. Hmm.. telingaku masih bagus juga mendengar selorohan wanita tua itu meski terdengar halus.

Tak pelak bapak memanggil anaknya yang ada di dalam rumah. Teriakan itu hampir saja membangun semua orang yang tertidur radius 200 meter. Kesabarannya seperti akan habis menunggu anaknya yang mau berangkat sekolah tapi lama berpakaian. Ketidaktahuan atas apa yang terjadi pada anaknya yang membuat dirinya tak sabar. Di dalam sana, sang anak sedang menahan kesakitan di perutnya. Teringatlah ia akan lauk tadi sahur, ikan tongkol balado buatan sang bunda. Memang itu makanan kesukaannya tapi mengapa pagi ini sambal-sambal itu tergiling dalam perutnya hingga sakitnya tak tertahan. Sudah 3 kali dalam 15 menit ia keluar masuk toilet. “Cepat sedikit kalau tidak papa tinggal ya,” gereget sang bapak berteriak pada anaknya.

Hufhh.. pagi ini kutemui banyak benang kusut yang belum selesai dipintal. Selepas sholat subuh sengaja kusisihkan waktu untuk berjalan mengelilingi komplek. Ku harap ada sedikit pelajaran berharga selain dari kuliah subuh di masjid tadi. Pelajaran kehidupan yang Alloh bentangkan di bumi ini melalui ciptaan-ciptaannya. Perjalanan 1km berkeliling begitu berharga pagi ini. Tak ternilai harga yang harus kuberikan pada mereka atas ilmu yang diberikan pada ku. Ku hanya berdoa semoga mereka Alloh jaga tetap dalam keislaman dan keimanan serta Alloh jaga mereka dalam keselamatan.

Subhanalloh.. berawal dari keinginan belajar sedikit menjadi banyak hikmah dari sempitnya pandangan. Tak ayal kaki mulai gontai. Mata mulai redup ingin segera dilakukan isi ulang. Segera ku langkahkan kaki menuju rumah. Ya, meski rumah ini bukan milikku tapi disinilah aku memulai biduk rumah tanggaku. Setahun tak terasa hampir berulang masa itu. Alloh belum jua titipkan pada ku kenikmatan dan keberkahan terbesar dalam kehidupan rumah tangga. Hati pun berkata, “Alloh belum yakin dan ridho pada ku untuk memilikinya.” Ya, biarlah itu menjadi misteri yang Alloh tuliskan untukku di suatu hari nanti. Agar kerinduan itu menjadi surga duniawi yang tak terkira saat waktunya telah tiba.

Alfaqir fid dunya,

Abu Dzar

Iklan