Islam hadir di bumi ini dalam suasana kedamaian dan penuh ketenangan. Islam yang hadir tak hanya berbicara tentang sholat, puasa, haji, dan zakat. Islam juga berbicara tentang prestasi. Dalam ilmu manajemen prestasi adalah kualitas dari suatu amal perbuatan. Memperhatikan mutu daripada perbuatan yang kita lakukan baik itu ibadah atau mualamah merupakan cerminan dari budaya prestatif yang dimiliki seorang hamba.

 

Alloh Ta’ala berfirman dalam surat Al-‘Ankabut ayat 45, “…aqimush sholah, innash sholata tanha ‘anil fahsya iwal munkar”. Artinya: dirikanlah sholat, sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar.

Subhanalloh, Alloh Ta’ala sendiri mencintai prestasi. Itu tercermin dalam setiap firman-Nya yang mengutarakan keutamaan suatu amal dan menunjukkan bagaimana amal itu memiliki manfaat bagi hamba-hamba yang menjalankannya. Dalam urusan sholat saja, Alloh Ta’ala selain mewajibkan bahkan menghimbau agar umat Islam mendirikan sholat, juga menunjukkan bagaimana bila sholat itu didirikan dengan rambu-rambu yang ada maka itu akan menjadikan perisai baginya dari setiap perbuatan keji dan munkar.

Begitu pula Rasululloh SAW pun mencintai dan memperhatikan prestasi dalam setiap amalan yang beliau lakukan. Dalam sholat, tiadalah yang mampu menandingi kesempurnaan dari sholat Rasul. Baik dari kekhusyukan, keikhlasan, dan lamanya sholat. Kekhusyuan Rosul dan para shahabat terbilang luar biasa, hingga ada seorang sahabat yang terkena panah lalu ia meminta dicabut pada saat ia melaksanakan sholat. Keikhlasan yang ditanamkan oleh Rosul dalam sholat tiada terkira, yang diungkapkan dalam suatu pembicaraan dengan istri beliau, ‘Aisyah radhiyallohu anha, “Afalaa ‘abdan syakuro” (apakah aku tidak boleh menjadi orang-orang yang besyukur?).

Subhanalloh, itulah Nabiulloh Muhammad SAW yang telah mencontohkan budaya prestasi dalam setiap amalan. Sudah tentu apa yang dicontohkan di atas merupakan salah satu bukti bahwa Islam sangat menjunjung tinggi prestasi. Bahkan amalan yang dilaksanakan tanpa memperhatikan prestasi akan berdampak pada tertolaknya amalan. Prestasi apakah itu? Amalan harus memperhatikan ilmu, keikhlasan, dan sesuai dengan tuntunan Rasul. Ilmu yang disiapkan adalah ilmu yang terbaik yang dipahami dari yang dipelajari. Keikhlasannya adalah keikhlasan terbaik, hingga seekor lalat pun tak mengetahui kalau ia melakukan amalan.

Sahabat muslim yang dimuliakan Alloh, mari kita kaji Islam ini lebih jauh maka kita dapat menemukan kehidupan prestatif yang senantiasa ditanamkan dalam diri umat. Tiada ibadah yang diperintahkan oleh Islam tanpa adanya mutu dan kualitas. Semuanya itu diperuntukkan untuk menjadikan amalan yang dilakukan sebagai amalan terbaik yang dipersembahkan untuk Alloh Rabbul Izzati.

Dalam Ramadhan pun, setiap diri diminta untuk berprestasi. Banyak amalan sunnah yang harus dilakukan dalam shoum Ramadhan ini. Tilawatil Qur’an yang dijalankan adalah bacaan terbaik yang berlomba-lomba beberapa kali mengkhatamkan dalam bulan ini. Bila tahun lalu dapat menyelesaikan 1 kali khatam, maka tahun ini terus ditingkatkan jumlahnya. Shalat tarawih yang biasa bolong-bolong karena banyak kegiatan, atau sibuk pulang kampung maka tahun ini azzamkan untuk menyempurnakan shalat tarawih. Apalagi disempurnakan dengan bacaannya yang fasih lagi khatam.

Puasa kita pun mesti dilakukan dengan mutu yang terjaga. Hal-hal yang mengurangi pahala puasa dihindari agar kesempurnaan nilai ibadah puasa dapat Alloh nilai sebagai yang terbaik. Di sini Alloh memberikan pembelajaran terbaik kepada umat terbaik yang pernah diciptakan Alloh Ta’ala. Puasa mengajarkan kedisiplinan, keikhlasan, pengajaran kebaikan, kejujuran, dan senantiasa berbagi.

Kedisiplinan yang Alloh ajarkan menjadikan setiap insan muslim tak berani melakukan indisipliner. Sama seperti sholat. Meski dilakukan di tempat tersembunyi tak ada yang berani melakukan ‘korting’ atas jumlah raka’at. Puasa pun memiliki makna yang sama, tak ada yang berani dan sampai hati membohongi Alloh dengan berbuka di siang hari. Karena puasa itu untuk Alloh, sedangkan itu berbeda dengan ibadah lainnya yakni untuk diri kita sendiri.

Alloh mewajibkan puasa pada bulan Ramadhan, yaa ayyuhalladzina amanuu kutiba ‘alaikumusshiyam kamaa kutiba ‘alalladzina minqoblikum la ‘allakum tattaqun (QS.2:183) Tingkat kedisiplinan dari sisi waktu Alloh ajarkan pada umat agar terbiasa dalam keseharian. Tiadalah mungkin seorang muslim melaksanakan shoum wajib di Rajab atau bulan lainnya. Sebagaimana Alloh Ta’ala juga mewajibkan sholat di waktu yang telah ditentukan, innash sholati kaanat ‘alal mu’minina kitaban mauquuta (QS.3:103). Dan tidak ada yang berani seorang mukmin memindahkan waktu sholat ashar ke dalam waktu subuh.

Keikhlasan luar biasa dalam menahan haus dan lapar serta hawa nafsu lainnya menjadi pendidikan dalam Ramadhan. Peluh yang terasa saat awal mula puasa tak seberapa bila dibandingkan dengan kesenangan dan bahagia yang dirasakan bertemu Ramadhan. Keikhlasan menambah kualitas puasa menjadi lebih baik dan segera mendapatkan balasan terbaik dari Alloh Ta’ala.

Saat Rasululloh diluar Ramadhan, keikhlasan itu terwujud dalam perilaku beliau yang sentiasa menyuapi seorang wanita yahudi yang sering menyemooh Rasul padahal beliaulah yang menyuapi makanan setiap hari. Tatkala suatu hari Nabiulloh tak bisa menyuapi, dimintalah Umar ibnu Khatthab menggantikan untuk menyuapi. Saat itulah, perasaan marah bercampur kesal saat menyuapi wanita tua itu karena lisannya tak henti-henti menyela Rasululloh SAW. Akhirnya, wanita tua itu mengatakan “Sepertinya engkau orang yang berbeda dari yang biasa menyuapi aku?”. “Ya, Rasululloh mengutus aku untuk menggantikannya,” jawab Umar r.a. Tercenganglah wanita tua itu mendengarnya. Dan sejak saat itu, ia berikrar syahadat untuk memeluk Islam dikarenakan akhlak Rasul yang begitu mulia.

Di Ramadhan ini, momentum berbagi pada sesama semakin meningkat. Tiada hari tanpa memberi. Memberi itu menyenangkan. Begitulah seharusnya seorang muslim memandang sedekah dan infaq. Bukan lagi suatu beban atas harta yang dimiliki. Melainkan kenikmatan dalam berbagi untuk membersihkan harta yang Alloh titip pada setiap insan. Rasul menggambarkan “Mukmin itu seperti sebatang pohon kurma. Tiap yang diambil memiliki manfaat.” (HR. Thabrani)

Khoirunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada manusia lainnya. Keberadaan saudara kita yang memiliki ekonomi rendah bukanlah sesuatu yang harus dicaci dan dihina. Melainkan harus dibantu mengangkat harkat martabatnya sebagai seorang manusia dan seorang muslim. Laksana Rasululloh SAW yang membawa Islam kepada masyarakat Jahiliyyah saat itu. Saat seorang Bilal ibnu Rabah tak memiliki hak untuk hidup layak dikarenakan beliau adalah hamba sahaya, maka Islam melalui Abu Bakar r.a. membebaskannya dari perbudakan dan hidup secara layak dalam Islam bahkan posisinya ditinggikan oleh Alloh Ta’ala.

Begitulah Islam menjunjung tinggi prestasi dalam setiap amalan. Tiap perbuatan yang bernilai ibadah dalam Islam ada nilai kualitas, jaminan mutu, yang membuktikan bahwa amalan itu memiliki prestasi yang patut dibanggakan di hadapan Alloh Azza Wa Jalla. Almarhum Ustad Rahmat Abdulloh, Syaikhut tarbiyah, menjelaskan bahwa setiap insan wajib memiliki amalan unggulan yang terbaik sebagai persembahan pada Alloh di hari akhir nanti. Dari situlah Alloh akan melihat sesungguhnya siapa sebenarnya kita. Dan Alloh juga akan memasukkan kita sesuai dengan amalan yang biasa kita lakukan.

Lantas mengapa kaum muslim saat ini terperangkap pada stigma minim prestasi? Bukankah Islam berjaya dalam segala bidang saat kekhalifahan masih ada terutama pada zaman Dinasti Abbasiyah. Saat itu Islam menguasai ilmu pengetahuan, dibuktikan dengan adanya perpustakaan Cordova (Cordoba) yang berisi kitab yang ditulis ilmuwan Islam setelah mereka berhasil menemukan sesuatu di alam raya ini. Bukankah Islam setelah direbut di zaman Romawi kembali direbut oleh Muhammad Al-Fatih dalam usia relatif muda, 21 tahun. Belum lagi kisah lainnya yang menggambarkan Islam dimasa lalu memiliki prestasi gemilang.

Menurunnya prestasi umat Islam tidak lain tidak bukan disebabkan oleh 2 faktor, internal dan eksternal. Kedua faktor itu saling melengkapi dalam praktiknya hingga akhirnya menyempurnakan kemunduran umat Islam di segala bidang kehidupan. Umat Islam pun banyak tak sadar atas kedua faktor ini yang menggerogoti keunggulan umat di dunia. Sampai pada kondisi tidak peduli atas kondisi seperti ini.

Secara internal, umat Islam kehilangan gairah untuk berprestasi di segala bidang. Dalam ilmu pengetahuan, Islam kalah dengan dunia barat saat ini. Meskipun mulai melawan dengan ilmuwan Iran yang berusaha mengejar ketertinggalan. Akan tetapi, itu semua belum cukup untuk mengatasi seluruh pengetahuan yang tertinggal jauh. Faktor utamanya adalah umat Islam belum memahami secara mendalam tentang apa yang dilakukan selama ini dalam ibadah. Manfaat yang terkandung dalam ibadah tidak ada yang terwujud dalam perilaku keseharian. Sehingga inilah yang menyebabkan kemunduran umat islam sejauh-jauhnya. Terjebak pada ritualitas ibadah tanpa mencoba mencari makna hakiki dari perintah yang ALloh turunkan kepada manusia.

Secara eksternal, umat Islam terpecah belah pada urusan yang dibuat-buat oleh musuh Islam. Dalam hal makanan, pakaian, olahraga, dan hiburan, umat Islam telah terbelenggu oleh apa-apa yang disiapkan musuh Islam untuk mengelabui umat. Makanan junk food, pakaian serba minim dan ketat mengumbar aurat, olahraga yang melenakan, dan hiburan yang diluar batas kewajaran dalam Islam. Semua itu dibuat menjadi wajar dan lumrah karena umat telah dijauhkan dari senjata utamanya, yaitu Al-Qur’an. Itulah satu dari sekian banyak cara musuh Islam menghancurkan umat, menjauhkan umat dari Al-Qur’an.

Jelas, bila ingin kembali mengusung prestasi di bumi Alloh ini. Umat Islam harus mau dan mampu menghancurkan belenggu masa lalu yang menggelayuti. Masa lalu yang kelam dan penuh kemalasan serta kebohongan. Menuju masa depan yang penuh dengan keindahan, kedisiplinan, dan kejujuran. Alloh membimbing manusia melalui Al-Qur’an, tanpa keraguan dan kesesatan sedikitpun didalamnya. Kemudian memahami kembali setiap manfaat (ibroh) dari ibadah apapun yang dilakukan. Niscaya petunjuk akan menggiringnya kepada pencerahan dalam menjalani setiap lini kehidupan ini. Dan dengan itu pula, umat Islam akan kembali berjaya. Al islamu ya’lu walaa yu’la ‘alaih.

Wallohul musta’an.

Abu Dzar, 07/08/2012 19:44:21 WIB

Iklan