Dua pekan lalu, disampaikan oleh seorang ustad tentang arahan-arahan yang harus dilakukan pada bulan Safar ini. Memang hampir setiap bulan hijriah, kami selalu mendapatkan arahan untuk mampu melewati 1 bulan tersebut dengan nilai-nilai kebaikan yang banyak. Arahan untuk menjadi sholeh secara individu dan juga sholeh sosial sudah biasa. Kini ada arahan yang berbeda, yaitu arahan untuk memiliki usaha bersama keluarga (iqtishodiah).

Sejak saya di SMA saya belajar berwirausaha dengan berjualan jagung bakar dengan berbagai rasa. Tapi tak lama hanya berjalan 1 semester saja, setelah itu saya dilarang orangtua untuk berjualan dengan alasan orangtua masih sanggup membiayai sekolah. Usaha yang saya lakukan untuk menambah uang saku saya. Dengan kegiatan yang menumpuk dan jauh dari orangtua maka saya sudah wajib menghasilkan uang meskipun hanya sedikit. Ya, usaha saya ini kandas karena berdampak pada nilai raport saya yang kurang baik bahkan harus kembali ke ranking 5 setelah menempati ranking 3 di pembagian raport sebelumnya.

Di masa kuliah, jiwa wirausaha saya pun kembali tumbuh. Jurusan yang saya masuki adalah mata pelajaran yang paling sulit bagi siswa di sekolah, matematika. Saya berpikir ini peluang bagus untuk mengembangkan jiwa bisnis saya. Ide pun muncul setelah mendengar dari banyak kakak tingkat bahwa mereka mengajar privat dengan menggunakan biro privat. Cuma dalam waktu 2 bulan, rancangan biro privat pun saya siapkan. Saya memulai ini dengan mencari murid privat terlebih dahulu. Kebetulan kakak tingkat saya kelebihan jam mengajar dan bentrok jadwal kuliah, jadi saya dipercaya untuk melanjutkannya.

Jadilah saya seorang guru privat yang datang dari rumah ke rumah untuk mengajar tunas-tunas bangsa agar mereka cerdas dan berpretasi, dengan sedikit mengharapkan ada imbal jasa atas usaha yang sudah saya lakukan. Gaji saya waktu itu belum besar, baru 45 ribu rupiah untuk 90 menit. Dari sana, saya mulai membuat leaflet/brosur sendiri dan saya bagikan di satu komplek tempat anak didik saya. Jadi jika ada pertanyaan, orangtua dari murid saya dapat menjelaskan dan pastinya testimoni langsung dari konsumen lebih mengena ketimbang brosur yang dibuat menarik dan mahal.

3 bulan saya menyebarkan informasi di satu komplek, saya sudah mendapatkan siswa tambahan 8 orang dengan rata-rata biaya privat 1 bulan mereka 540 ribu rupiah, jadi omzet saya 4.860.000 rupiah. Keuntungan yang bisa saya hasilkan dalam 1 bulan lebih 300 ribu untuk membiayai kuliah saya 1 semester yang hanya 1,2 juta. Sejak saat itu, saya terus kembangkan biro privat saya yang tanpa nama. Konsumen (orangtua siswa) hanya tahu nama, asal kampus, dan nomor telepon saya saja.

Lagi-lagi, berbisnis memang ada resikonya. Saya selama 2 semester mengelola biro ini harus menelan pil pahit, IPK saya hancur-hancuran. Nasakom alias nilai satu koma. Saya benar-benar tidak berani mengeluarkan KHS kepada orangtua saya. Bisa-bisa saya kena marah habis-habisan karena tidak fokus belajar dan segera lulus. Meski ditanya saban hari, tetap saja saya tidak mau memberikan dan hanya berkata “alhamdulillah masih harus ada yang diperbaiki nilainya, mungkin semester depan ikut semester pendek untuk mengulang.”

Dalam hati saya, “sampai kapan saya bisa tutupi hal ini. walaupun saya tidak berbohong tapi saya menutupi kebenaran.” Hati berkecamuk tetapi saya masih belum berani terbuka atas yang terjadi. Akhirnya saya tekadkan untuk mengakui semua ini pada semester depan. Saat semester pendek sudah berjalan dan saya dapatkan nilai baik, serta nilai ipk semester depan saya harus bagus. Tentu ditambah satu niat, bubarkan biro privat ini segera.

Akhirnya saya hubungi kawan-kawan guru privat yang saya ajak kerja sama. “Terima kasih telah membantu saya untuk membimbing anak-anak didik yang serahkan pada kawan-kawan. Untuk bulan ini kawan-kawan akan dapat bayaran sesuai waktunya dan untuk bulan depan pembayaran siswa dari orangtua dapat kawan-kawan nikmati sendiri karena saya harus kembali fokus kuliah,” kata-kata terakhir saya yang masih saya ingat hingga kini. Mereka pun kaget dengan keputusan ini karena mereka selama ini merasa terbantu biaya kuliah dengan mengajar di biro yang saya dirikan.

Semester ke 5 saya dapatkan nilai yang baik, lalu semester 6 saya dapatkan IPK tertinggi saya 3,54 dengan 23 sks. Saya saja tidak percaya jika ini dapat saya lakukan. Alhamdulillah, di semester 7 nilai saya masih diatas rata-rata. Sampai pada semester 8 dan 9 saya harus jalani amanah dakwah di lembaga kampus. Lalu semester 9 saya kembali memulai bisnis setelah diajak oleh 2 orang kawan. Membuka bimbingan belajar dengan modal niat dan kerja keras. Ini pun saya harus akhiri pada awal tahun kedua merintis karena sudah akan memasuki masa akhir kuliah saya. Selain itu, saya butuh dana untuk membayar kuliah yang saya tidak lakoni padahal sisa skripsi saja. Memang keputusan yang sulit tapi harus berani ambil resiko. Saya mundur dan saya bergabung dengan LP3I.

Setelah 2 tahun bergabung, kini saya menerima amanah untuk mengelola bisnis pendidikan ini di salah satu cabang. Itu disahkan 3 bulan setelah saya menikah pada 17 September 2011. Saya jalani bisnis dengan total investasi senilai 2,6 miliar rupiah dan potensi omzet setahun senilai 1,3 miliar rupiah. Satu kepercayaan dan loncatan yang fantastis yang terjadi dalam hidup saya terutama dalam hal berbisnis.

Istri sholihah yang saya miliki, di pertengahan tahun 2012 juga memulai berbisnis kecil-kecilan. Memang tujuannya bukan menambah keuangan keluarga, namun lebih kepada hobi dan memulai berdikari setelah nanti memiliki putera-puteri dan tidak lagi bekerja. Bros pita dari pita organdi yang disuplai dari bandung itu dalam sebulan bisa menghasilkan omzet minimal 200 ribu rupiah, dan pernah sampai angka 450 ribu. Sungguh angka yang fantastis untuk barang yang hanya diminati oleh kaum wanita itu.

Kini kami di tahun 2013 ini mencanangkan untuk berusaha bersama untuk membangun perekonomian keluarga yang lebih baik. Setelah ekonomi membaik maka usaha dakwah apapun yang digeluti akan mendapatkan support maksimal terutama dana. Karena harta yang dimiliki adalah titipan dari Alloh Ta’ala untuk kita manfaatkan sebaik-baiknya. Sudah disusun rencana untuk mengaktifkan kembali biro privat yang sempat berjaya di tahun 2005-2006. Dengan basic mengajar yang kami miliki dan juga jaringan, kami yakin mampu memberikan yang terbaik untuk memenuhi ekspektasi prestasi yang diinginkan orangtua atas putera-puterinya. Biro Privat “TAKTIS” akan segera muncul di pertengahan tahun ini. Doakan kami semoga berhasil,,, ^_~

Iklan