“Alhamdulillah, sampai juga,” ucapnya lirih sesaat setelah ia mengerem motor matic miliknya di tepian jalan dekat pom bensin. Sepertinya ia orang pertama yang datang. Diliriknya jam tangan yang menunjukkan waktu pukul 19.32. Ia adalah orang pertama yang hadir dekat lokasi, karena ia tidak tahu lagi jalan masuk ke gang menuju lokasi halaqohnya malam itu. Seyogianya, halaqoh malam itu dimulai jam delapan. Lewat pesan singkat ia mengetahui bahwa empunya rumah belum sampai, dan kawan-kawannya juga masih jauh dari lokasi. Meski demikian wajahnya terlihat bahagia karena ia akan bertemu saudaranya yang sholih dan luar biasa. Sudah bisa ia bayangkan, semangatnya sepekan ke depan pasti meningkat untuk menggapai ridho, berkah, dan rezeki Alloh Ta’ala. Apalagi kepahamannya tentang Islam dan dakwah juga akan bertambah seiring dengan taujihat ma’nawiyah yang selalu disampaikan sang ustadz di setiap halaqoh.

Setelah menunggu sekitar satu jam, ia menerima pesan singkat di telepon genggam, “Akhi saya sudah sampai di stasiun. Bila ada yang berbaik hati, tolong jemput saya di stasiun.” Oh, ternyata sang ustadz yang mengirim. Dengan sigap dikirimkanlah pesan itu kepada semua saudaranya yang masih di jalan, termasuk sang empunya rumah, karena letak stasiun itu searah menuju lokasi. 10 menit berlalu, ia pun bertanya pada sang ustadz, “afwan ustadz, apakah sudah ada yang membalas dan berkenan menjemput? Ana sudah dilokasi tapi ana tidak tahu jalan yang cepat menuju stasiun, yang ana tahu harus berputar lewat jalan raya. Sudah pasti lebih dari 30 menit ana sampai di stasiun.” “Belum ada akhi. Saya tunggu di sini, jika ada yang berbaik hati menjemput tolong kabari saya,” begitu balas sang ustadz melalui pesan singkat.

Gundah hatinya. Jiwanya merasa terusik karena sang ustadz yang akan memberikan taujihat malam ini belum ada yang bersedia menjemput. Akhirnya ia berinisiatif bertanya pada beberapa orang disekitar dan didapatkanlah info tentang rute yang lebih cepat menuju stasiun. Dengan hati resah karena sama sekali buta daerah itu, ia bertekad untuk menjemput sang ustadz. Lebih dari 3 kali ia salah jalan dan harus bertanya kepada beberapa orang yang melintas. Jalan yang tidak ada penerangan menyulitkannya mendapatkan petunjuk arah. Di sela-sela itu ia pun menerima pesan singkat kalau saudaranya yang bekerja di Tangerang juga sudah sampai di stasiun yang sama dan minta dijemput. Akhirnya ia sampai di stasiun yang dimaksud setelah lima belas menit berlalu.

Gelisahnya belum reda. Handphone yang dibawanya kehabisan pulsa. Coba ia rogoh saku celana dan baju, ternyata ia hanya menemukan uang seribu rupiah. “Kalau begitu uang ini untuk parkir di samping stasiun itu saja. Biar saya masuk ke dalam untuk mencari mereka,” ucapnya dalam hati. Tak lama ia langsung menemukan saudaranya yang ia akan jemput. Sigap ia saat mendengar suara teriakan saudaranya, “Akh.. ana disini..” Sudah dilihat saudaranya itu, tapi mengapa wajahnya menatap ke arah berlawanan dengan dirinya hadir. Tanda tanya itu terjawab sudah karena dilihatnya di seberang jalan ada saudaranya yang sudah datang lebih awal.

“Akhi.. akhi.. ustadz dimana?” tanyanya pada saudara yang dilihatnya tadi sambil mengeloyor mendekati motor di seberang jalan sambil berteriak memberikan jawaban, “Hehehe.. giliran disuruh jemput datang semua. Ustad sudah ada jemput duluan tadi.” Terdiam dia sejenak mendengar kata-kata itu sambil menyerna maksud kalimat saudaranya itu. Tiba-tiba hatinya berubah menjadi kesal. Wajahnya yang bahagia berubah murung. Tapi ia tidak ambil pusing, bergegas ia kembali ke parkiran mengejar saudaranya itu setelah ia ingat bahwa ia tidak menghafal jalan kembali ke pom bensin tempat ia menunggu tadi.

Belum ia menyalakan motor dan membayar parkir, ia melihat motor yang memboncengi saudaranya sudah melewati rel kereta. Ia pun terburu-buru menyalakan motor karena hanya bersama mereka harapan satu-satunya ia bisa mengikuti halaqoh malam ini. Handphone yang dibawanya sudah kehabisan pulsa dan mati beberapa saat lalu. Uang pun sudah tidak ada di sakunya. Dikejarlah motor itu meski ia tidak tahu seberapa cepat motornya dapat mengejar motor 125cc yang melaju cukup kencang itu. Dilewatinya rel kereta lalu masuk ke jalan gelap yang tadi ia lalui menuju stasiun. Motor yang dikejarnya sudah tak terlihat, ia juga ragu-ragu apakah harus lurus atau belok ke kanan saat bertemu simpangan. Dalam suasana bimbang seperti itu tiba-tiba dari arah kiri motor menyerempetnya. Sontak ia kaget dan berteriak istighfar. Untung saja ia dan motor yang menyerempetnya tidak jatuh. Setelah memohon maaf atas kesalahannya, sejenak ia turun. Dilihatnya pada bagian kiri sayap motor ada lecet gesekan dan sedikit memar di kaki kirinya.

Ia duduk sejenak di pinggir jalan. Hatinya yang kesal dan kecewa bercampur aduk dengan shock yang dialaminya tadi. Nampaknya ia tidak mampu berpikir jernih lagi. Hatinya diliputi amarah. Meski istighfar terus diucapkan, tapi bara api dalam hatinya tak segera padam. “Huffhh, lebih baik pulang saja,” ucapnya lirih, memutuskan untuk berputar kembali ke arah stasiun lalu ia lanjutkan ke arah rumahnya karena tidak yakin kalau ia bisa menemukan jalan ke arah semula ia menunggu kawan-kawannya hadir halaqoh. Sepanjang perjalanan, ia hanya beristighfar sambil memohon kepada Alloh Ta’ala agar ia diberikan keikhlasan dan kesabaran.

***

Duhai hati..

Amarah yang meliputi hatimu hanya akan membakarmu saja. Tak ada kebaikan dalam amarah yang kau umbar. Justru keburukan yang akan datang menghampirimu dan itu jalan setan yang terkutuk. Duhai hati meski hatimu dipenuhi kemarahan, cobalah untuk selalu ingat pada-Nya dengan berucap ampun astaghfirullohal ‘azhim. Semoga istighfar itu dapat membawamu kembali kepada kondisi fitrahmu, mencintai kebaikan. Mencintai saudaramu, mencintai gurumu, lebih dari engkau mencintai dirimu sendiri.

Duhai hati..

Bersabar di saat menunggu memang pekerjaan sulit. Itulah yang diajarkan oleh dakwah ini untuk selalu bersabar dalam menjalankan proses dakwah. Tak mungkin benih padi yang ditanam pagi hari akan berbuah pada sore harinya. Begitulah sabar mendidik kita duhai hati untuk selalu istimror dalam menjalankan kebaikan ini. Mengapa untuk hal yang seperti ini kau tidak sabar duhai hati? Apakah tak berbekas dakwah ini dalam kepribadianmu?? Bukankah bersabar itu lebih indah dan akan indah pada akhirnya?

Duhai hati..

Peluh yang kau kucurkan untuk aktivitas dakwahmu, semoga menjadi amal kebajikan yang mampu memberatkan timbanganmu atas amal burukmu di yaumil akhir kelak. Apapun hasil yang kau raih, bagaimana pun kondisi akhir dari dakwah yang kau jalankan. Ingatlah selalu Alloh Ta’ala melihat proses yang kau jalani selama ini. Bila ada saudaramu yang membuat kesal, anggaplah itu sebagai proses menjadi dewasa. Bila ada saudaramu yang membuat kecewa, anggaplah itu ujian atas keikhlasan dan kesabaranmu. Bukankah bila hati ikhlas dan sabar akan menjadikan engkau lebih indah duhai hati?

Duhai hati..

Kesempurnaan hanyalah milik Alloh Ta’ala..

Manusia hanya berusaha menjadi sempurna..

Selebihnya tak ada gading yang tak retak..

Bila ada di antara mereka yang menjadi ujian bagimu..

Ikhlaskanlah apa yang diperbuat padamu..

Bersabarlah atas apa yang terjadi..

Hingga Alloh Ta’ala menepati janji-Nya padamu..

Untuk masukkan dirimu ke dalam surga..

Duhai hati..

Ikhlas dan Bersabarlah..

Iklan