Ya, kata “berbeda” jadi sebuah pemandangan yang perlu di perhatikan selain dari kata “dimengerti”.

Mereka yang mengerti, biasanya belum tentu lebih memahami masalah yang kita hadapi. Paham satu tingkat diatas mengerti. Dimana kepemahaman seseorang dituntut untuk mengetahui juga resiko/konsekuensi. Misal, seorang anak memotong kayu besar dengan pisau. Maka tentu saja,  pisau itu hanya mampu melukai sj kayu yang besar itu.

Tak sedikit pribadi yang terjebak pada pemahaman semu yang akhirnya ia kurang mampu mengejawantahkan ilmu yang dimilikinya dalam kehidupan sehari-hari nya.  Meski tentu banyaj faktor jika ditilik lrbih dekat.

image

Saat tiap kita berinteraksi dengan orang lain, ada istilah “saya sudah memahami kamu”. Tahukah, apa yang sudah dipahami itu ternyata belum sepenuhnya dipahami? Ya, baru sekedar mengerti.

Meski manusia itu adalah adik, tak jarang kata “pahami… ” sering digunakan. Lagi-lagi, kepemahaman kita baru sekedar kulit atau permukaan saja. Perlu pendalaman agar makin paham.

Sedikit deskripsi. Misal kamu suatu hari ingin naik kendaraan umum saja, alias angkot. Lalu kamu jatuhkan pilihan moda pada bus transjabodetabek. Bukti kamu masih pada level mengerti, kamu masih melihat peta jalan untuk menentukan arah tujuan kamu. Buat yang sudah paham rute, maka ia tanpa sadar langsung menuju pintu masuk bus. Dia paham betul jadwal dan rutenya.

Nah, bagaimana kepemahaman kamu dengan pasangan mu? Apakah hanya sekedar lipservice sebagai penyenang hati pasangan?

Iklan