Seruu nih kalau harus bercerita tentang serba-serbi munculnya penerapan IT di dunia pendidikan..

Bukan ingin cerita sejarah munculnya, tapi efek yang ditimbulkan dari penerapan IT bagi sejumlah guru dan perkembangan dunia pendidikan saat ini..

Hmm.. menarik untuk kita telusuri.. 🙂

Ya, penerapan IT sejak tahun 2000-an sudah mulai digalakkan. Pelajaran komputer atau TIK sudah mulai dikenalkan di beberapa sekolah. Meski di beberapa sekolah baru sekedar penerapan pada tugas-tugas, tetapi IT sudah mulai masuk. Bagi siswa yang tidak memiliki perangkat PC maka terpaksa harus datang ke rental komputer untuk mengetik atau print. Bersyukur kalau rental juga menyediakan akses internet seperti di warnet.

Ada kejadian menarik, ketika siswa sudah mengumpulkan semua tugas kepada guru. Beberapa hari setelahnya, tugas hampir semua dikembalikan oleh guru dengan kondisi penuh coretan. Maklum, siswa masih belajar mengetik jadi banyak spasi dan kata yang kurang tepat sehingga mengurangi penilaian. Sepulang sekolah, seorang siswa bertanya kepada guru tersebut perihal kesalahan-kesalahan tadi, dengan maksud ia ingin lebih jelas mendapatkan solusinya. Setelah beberapa menit berdiskusi, guru itu memberikan penjelasan singkat, “Maaf ya nak, bapak belum bisa mengetik di komputer dan coretan tadi itu yang bantu koreksi guru komputer. Silakan diskusi dengan beliau untuk lebih jelasnya.”

Masih banyak kah guru yang butuh support belajar IT di Indonesia?

Nah, tentu masih banyak guru di Indonesia yang masih perlu banyak di support agar mampu menerapkan IT. Hanya saja, dalam keseharian yang mampu melihat kekurangan itu adalah pimpinan sekolah atau rekan guru sejawat. Kejadian seperti kisah di atas sepertinya sudah sangat langka untuk terulang kembali.

Jutaan guru yang tersebar di Indonesia, mungkin baru sekitar 20-30% yang tersentuh untuk menerapkan IT dalam keseharian mengajarnya. Dari jumlah tersebut, yang masih terus mau belajar tentu sangat sedikit sekali. Lihat saja di E-Training Guru Melek IT yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru Melek IT yang dimotori oleh Bapak Sukani. Mungkin hanya sekitar 800-an orang yang sudah selesai mengikuti diklat online selama beberapa tahun terlaksana.

Dalam beberapa diskusi, mengemuka beberapa permasalahan yang dialami oleh guru-guru dalam penerapan IT. Diantaranya adalah ketiadaan perangkat, ketiadaan koneksi internet, padatnya jam mengajar di sekolah, belum tersedianya waktu belajar IT, dan usia menjelang pensiun. Untuk masalah yang terakhir ini memang agak sulit dipecahkan, selain mencoba memaklumi.

Ada solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut agar guru mampu maksimal menjalankan peranannya?

Insyaa Allah, banyak solusi. Banyak jalan menuju Roma. Ya, banyak jalan untuk dapat menempuh cita-cita kebaikan. Permasalahan seperti tidak ada perangkat, tidak ada koneksi, jam mengajar padat, tidak ada waktu belajar, sebenarnya sudah masuk dalam teknis dan sangat mungkin untuk diberikan solusi. Ada permasalahan yang memang agak sulit untuk diselesaikan karena butuh waktu dan penting dipastikan berjalan smooth dalam penyelesaiannya. Hal itu adalah kesulitan para guru menerima penerapan IT sebagai “budaya baru” dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Bertahun-tahun guru mengajar hanya dibantu dengan kapur tulis, mesin tik, dan OHP projector. Tiba-tiba dalam hitungan singkat, guru diminta untuk menyesuaikan diri dengan perangkat baru semisal spidol, komputer, dan infocus projector. Bahkan dituntut untuk mampu menyusun berbagai hal tentang pengelolaan pembelajaran dalam bentuk digital. Tentu ini menjadi kesulitan tersendiri bagi guru yang kurang mampu beradaptasi dengan perkembangan ini. Ujungnya, pegawai Tata Usaha atau pegawai rental komputer yang jadi sasaran untuk dimintai bantuan mengetik segala rupa terkait pembelajaran, mulai dari RPP hingga ulangan.

Perlu belajar sejarah untuk memasukkan sebuah budaya baru kepada suatu kelompok masyarakat. Dalam sejarah yang bisa kita pelajari adalah masuknya Islam di Indonesia, bagaimana seorang Wali mengajarkan Islam melalui budaya masyarakat. Contoh gamelan sebagai alat musik digunakan untuk syiar Islam, memasukkan ajaran Islam melalui lagu seperti Lir Ilir, termasuk penggunaan bedug sebagai penanda waktu shalat.

Langkah kongkret apa yang bisa diterapkan?

Hmm.. pembentukan budaya baru seperti penerapan IT bagi guru di dunia pendidikan ini perlu terus menerus dilakukan sosialisasi, partisipasi, dan silaturahim. Penting juga bagi pemangku kebijakan untuk mencoba berbagai trik agar penerapan IT bisa masuk menjadi budaya bagi seluruh guru, dan ini juga untuk menepis segala bentuk diantaranya :

Pertama, kemudahan akses fasilitas IT seperti komputer dan jaringan internet. Apabila selama ini fasilitas IT hanya ada di kota-kota besar, maka IT sudah harus masuk desa. Di masa kepemimpinan Menteri Kominfo, Bapak Tifatul Sembiring, fasilitas IT di-drop untuk masuk ke desa agar memiliki wawasan dan fasilitas yang sama dengan kota. Sekolah di daerah juga dituntut untuk memprioritaskan pengadaan fasilitas IT agar segera tersambung dengan koneksi peradaban yang lebih luas. Alhamdulillah, berkat kerja keras berbagai pihak saat ini di daerah sudah banyak sekolah yang memiliki fasilitas IT yang memadai.

Kedua, biaya murah atau tanpa biaya alias gratis untuk belajar atau pemakaiannya. Bisa saja di sekolah membuka Laboratorium untuk dijadikan Taman Belajar Komputer agar siswa dan para guru menjadi tertarik untuk mempelajarinya.

Ketiga, menyenangkan dengan segala fitur dan software komputer yang menarik bagi guru. Software yang bisa dipelajari bagi seorang guru adalah microsoft office untuk mengelola dokumen seperti soal ulangan dan RPP, corel draw untuk membuat gambar pada soal lebih cantik, adobe flash untuk membuat animasi pembelajaran, videoscribe dan focusky untuk pembuatan video pembelajaran yang memukau, mathtype untuk menulis equation yang lebih cantik, catamsia untuk recording langsung dengan layar komputer, mindmaple untuk pembuatan mindmapping  materi, atau bisa juga mempelajari e-commerce dikenal juga dengan toko online. Masih banyak lagi software dan pembelajaran IT yang menarik dipelajari oleh seorang guru.

Keempat, pelatihan IT yang simultan agar guru selalu mendapat informasi baru tentang teknologi pendidikan. Tentu saja ini menjadi tugas pemangku kebijakan, untuk memperhatikan jadwal pelatihan dalam setiap tahun ajaran bagi guru.

Bila tatap muka sukar dilakukan, maka UPTD bisa memberikan saran kepada guru untuk mengikuti Diklat Online Guru Melek IT (DOGMIT) yang dilaksanakan hampir setiap bulan dengan materi yang beragam. Mudah sekali caranya, kunjungi www.gurumelekit.com atau klik daftar online disini, lalu transfer biaya diklat, tidak lama ada email yang berisi username dan password untuk masuk ke kelas diklat online di e-traininggurumelekit.edu20.org. Setelah mengikuti diklat ini, Anda akan menerima sertifikat yang dikirim via kurir. E-training ini hanya untuk guru yang berminat untuk jadi SUKSES saja.. J

Kelima, keberlanjutan dari penerapan IT penting diperhatikan agar pendidikan berkembang dan guru juga terus menerus secara mandiri mau untuk mempelajari berbagai fitur IT yang menunjang profesi. Belajar IT itu menyenangkan.

Nah, itu sekelumit tentang bagaimana membudayakan (belajar) IT di komunitas guru..

Ya pastinya susah.. susah.. gampang… hehe.. 🙂

Tapi, tetap pada keyakinan bahwa belajar (bagi) seorang guru hukumnya lebih fardhu ‘ain (kewajiban individual yang tidak bisa digantikan orang lain)

Bila (belajar) temui kesulitan, yakinlah sabar dan ikhlas akan menjadikan (belajar) itu indah..

Salam Brilliant..

Bangkitlah Pendidikan Indonesia, Jayalah Indonesiaku..

Iklan