Perjalanan saya merengkuh Islam dimulai saat saya kelas 5 SD. Di mana saat itu Ayah, yang telah kembali ke agama sebelumnya, jatuh sakit dan lumpuh, sehingga berada di Rumah Sakit lebih dari sebulan. Hal ini jelas membuat peran kepala rumah tangga berjalan kurang optimal. Untuk itu saya dititipkan ke pihak keluarga Ibu, seraya memanfaatkan kesempatan ini untuk merawat dan mendidikku kepada Islam.

Pada awalnya, Ayah memang beragama Kristen Katolik. Namun ketika Ayah menikah dengan Ibu, beliau sudah memeluk Islam dan menjadi mualaf. Hingga sampai saya berusia 2-3 tahun, pihak keluarga Ayah di Kupang, yang memang dari kalangan pendeta, baru mengetahui kalau Ayah masuk Islam. Mereka lantas datang ke Jakarta untuk meminta Ayah kembali kepada agama sebelumnya, Kristen Katolik. Karena dibujuk dan mengalamni tekanan, akhirnya Ayah pun menanggalkan keislamannya. Sejak saat itulah saya ikut agama Ayah, sementara Ibu tetap beragama Islam.

Sebagai seorang Katolik, saya secara penuh melakukan peribadatan di Gereja. Bahkan, dulu saat rumah saya di Buaran, kami sekeluarga berangkat merayakan Misa di Gereja Katedral, yang terletak persis di depan Masjid Istiqlal. Lucunya, Ibu selalu mengantar kami dalam satu mobil setiap Minggu pagi. Namun setelah sampai di Katedral, Ibu menunggu di luar. Sampai akhirnya terdengar adzan Dzuhur dari Istiqlal dan berganti kami yang kini mengantar Ibu ke sana, sementara kami menunggu di luar. Begitulah yang terjadi di hampir setiap Minggu.

Awal Masuk Islam

Setelah tinggal bersama keluarga Ibu, yang pada saat itu saya kelas 5 SD, saya mulai pindah sekolah. Semula saya bersekolah di SD St. Fransiskus 1 Senen, namun kini ke SD Negeri 05 pagi Cemputbar. Di sanalah saya bertemu Pak Dalyono, wali kelas saya yang juga memiliki TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) Ulul Albaab. Guru saya inilah yang akhirnya mengislamkan saya setelah mengikuti TPA beberapa pekan. Tepatnya 23 Agustus 1996 saya resmi mengucapkan kalimat syahadat di TPA tersebut. Meski ketika saya sempat bingung, kenapa di sini banyak orang melihat saya?

Sejak saat itu saya aktif menimba ilmu agama dan berjibaku dengan kegiatan TPA, seperti lomba-lomba yang di adakan di Istiqlal. Sering ketika di Istiqlal, saya memandangi Gereja di depan dan berpikir, kemarin saya ada di sana, tapi kok sekarang ada di sini?” Namun itu tak berlangsung lama, karena selanjutnya saya sudah kembali menikmati masa-masa bermain dengan teman-teman sebaya saya di TPA.

Keislaman saya tentu bukan tanpa hambatan. Ada intervensi yang datang dari pihak keluarga Ayah, terutama ditujukan kepada Ibu lantaran yang membawaku kepada Islam adalah Ibu. Sempat mereka datang kepada Ibu dan meminta agar saya tetap berada di rumah (rumah Ayah), sehingga terjadi banyak pertentangan. Mereka juga melayangkan surat adat yang berimbas pada nama saya. Awalnya nama saya bukan Christian Atanila, tapi Thomas Tope Christian Atanila Nillan. Thomas Lope itu nama Kakek, sementara nama asli yang diberikan Ayah adalah Christian. Nillan itu marga atau klan keluarga saya. Semenjak adanya surat adat itu, nama saya pun berubah. Tidak lagi menggunakan nama kakek dan marga Nillan diganti menjadi Atanila. Atanila itu adalah marga Nillan yang keluar dari agama Kristen Katolik. Jadi kalau keluarga Nillan di manapun bertemu dengan saya, mereka akan tahu bahwa saya masih satu keluarga dengan mereka, tapi agamanya sudah tidak lagi sama.

Masa-Masa Krusial

Ketika SD, kelas 5 dan 6, saya menitikberatkan TPA sebagai tempat saya belajar Islam. Mulai dari bahasa Arab, imla, tajwid, dan lain sebagainya. Semua itu dalam bimbingan Pak Dalyono. Terlebih letak TPA yang letaknya tidak jauh dari rumah kakek membuat saya mudah terpantau oleh keluarga.

Namun semenjak lulus SD, saya berhenti ikut TPA. Rasa-rasanya memang bukan masanya lagi saya berada di sana. Pun begitu, saya masih bisa mendapat siraman rohani dari Ibu Gusti, guru agama saya di SMPN 77 Jakarta. Bersama suaminya yang juga seorang guru, beliau mengajak anak-anak muslim untuk menghadiri acara di setiap Jumat pagi. Keduanya memang paham terhadap Islam, sehingga selalu membimbing anak-anak untuk membaca Al-Qur’an dan sekadar memberi arahan atau taujih-taujih kecil kala itu. Sering kali dari taujih tersebut saya berpikir banyak hal. Akhirnya saya semangat dan sering datang ke acara tersebut, mungkin saja karena masih terbawa semangat TPA dulu.

Lambat laun, karena kesibukan beliau yang sangat tinggi, berhubung beliau juga memiliki majelis taklim, ditambah adanya pergolakan di sekolah, acara Jumat pagi itu tidak lagi berjalan. Mulailah terjadi masa-masa krusial. Proses saya belajar agama menjadi lost. Di sisi lain, pantauan dari pihak keluarga pun melemah seiring aktivitas di SMP yang begitu banyak. Perlu diketahui, saya berkecimpung di Basket SMP. Bahkan, saya sempat tergabung dalam tim Aspac Junior saat itu.

Semua itu menyebabkan saya mulai meninggalkan sholat. Betapa tidak, kalau Subuh, Maghrib, dan Isya masih dapat dikontrol di rumah, tapi tidak demikian ketika Dzuhur dan Ashar berada di sekolah. Maka dengan tidak terkontrolnya itu, akhirnya setan mungkin datang kembali sambil membisikkan sesuatu yang membuat saya berpikir, Kenapa saya ada di agama yang ini? Kenapa tidak seperti agama yang dulu? Kenapa sih harus masuk Islam? Bukannya pas Katolik enak? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Kemudian tanpa sadar, saat sedang bermain sendirian, saya kerap melantunkan lagu-lagu Gereja yang pernah saya hapal waktu kecil. Bait lagu-lagu itu seolah terngiang kembali begitu saja di dalam kepala. Hingga pada kelas 3 SMP, saya tidak melakukan apa-apa untuk mencari pemahaman agama. Tentang agama, saya hanya mengandalkan bekal sewaktu di TPA dulu. Lama-lama, Isya pun lepas. Perhatian keluarga masalah agama sudah tidak lagi fokus. Saya semakin loose control.


Mengenal Islam Lebih Dalam

Tibalah saat saya harus memilih sekolah lanjutan ke SMA. Ada dua pilihan, yakni antara SMAN 30 dan SMAN 77 Jakarta. Alasannya, dua sekolah ini cukup berkembang saat itu. Akhirnya, seperti ada sebuah bimbingan, saya memilih SMAN 77. Pilihan ini didasari oleh pertimbangan bahwa SMAN 77 itu terletak jauh dengan daerah saya. Terlebih, pelatih Basket SMP saya sempat merekomendasikan sekolah tersebut lantaran prestasi Basketnya yang bagus.

Dan benar, setiap Minggu siang saya berlatih Basket di sana, meneruskan apa yang sudah saya dapat ketika SMP. Namun anehnya, tidak lebih satu bulan saya keluar. Ada yang lebih menarik perhatian saya, yaitu futsal yang diadakan Minggu pagi di sekolah. Futsal ini berjalan atas ajakan dari alumni-alumni. Cuma yang tak habis saya pikir, kok alumni jenggotan semua? Celananya pun beda. Kalau biasanya orang main futsal itu pakai celana pendek, mereka malah mengenakan celana panjang. Tidak pakai sepatu pula. Tapi pakai sandal semua. Bahkan kadang-kadang ada yang nyeker. Dalam hati saya bertanya-tanya, Acara apa ini? Kok asik?

Akhirnya saya ikut satu-dua kali, walaupun belum ikut bermain. Saat itu saya hanya menonton dan berkenalan dengan mereka, hingga suatu ketika kakak kelas saya yang kelas 2 mengajak saya untuk bermain hingga sekitar jam 10. Setelah itu, ternyata mereka tidak langsung pulang, tetapi membawa saya beranjak ke Masjid sekolah untuk bersih-bersih. Lalu salah seorang dari mereka bilang kepada saya, “Sholat Dhuha, yuk!”

Dhuha? Sholat apa itu? Tanya saya dalam hati.

Akhirnya saya ikut sholat meskipun masih bingung. Saya pun berencana, ketika pulang nanti, akan membuka kembali buku-buku agama di rumah, mencari tahu apa itu sholat Dhuha.

Uniknya lagi, selesai sholat Dhuha, mereka tak langsung pulang. Mereka berkumpul dan duduk melingkar. Kemudian di antara mereka mengeluarkan makanan dan minuman ringan sembari mengobrol mengenai apa saja yang mereka rasakan hari ini dan masalah apa saja yang mereka hadapi kemarin untuk diambil pelajarannya.

Jujur, saya sempat kaget kala memperhatikan semua itu pertama kali. Dada saya berdesir merasakan kenyamanan tersebut. Ada feel yang belum pernah saya rasakan sebelum-sebelumnya. Eh, kok enak ya?

Dari situ, Minggu siang saya sudah tidak lagi datang ke Basket, lantaran paginya saya sudah beralih ke futsal. Apalagi, sebelum para alumni datang (biasanya mereka datang jam 7.00 WIB), saya sudah datang satu jam sebelum itu. Rupanya kenyamanan tersebut berlanjut dan terbawa hingga saat pemilihan ekskul. Kala itu, dengan mantap, saya hanya menuliskan satu pilihan: Rohis.

Sesudahnya, saya bergabung dan mengikuti semua agenda Rohis. Kemudian diikutsertakan ke dalam mentoring, yang akhirnya saya mulai sadar, bahwa di sinilah tempat saya untuk menimba ilmu agama. Alhasil, saya mulai paham Islam lagi di sana. Mulai mau sholat lagi, baik di sekolah maupun di rumah. Ini pun tak terlepas dari lingkungan sekolah, mulai teman-teman hingga guru-guru yang senantiasa mengajak pada kebaikan. Mau tidak mau, saya pun jadi ikut semangat. Islam yang kusandang sejak kelas 5 SD, entah sekarang kurasakan begitu nikmat dan indah saat itu.

Hampir setiap hari, di jam 10.00 WIB, saat istirahat yang hanya 15 menit, saya tidak langsung ke kantin, melainkan ke Masjid terlebih dahulu untuk sholat Dhuha bersama teman-teman Rohis. Setelah itu saya baru ke kantin untuk sekadar beli minuman. Kemudian kembali ke kelas dan belajar lagi. Siangnya, tak jauh berbeda. Waktu istirahat kedua, segera saya ke Masjid untuk sholat Dzuhur, baru setelahnya ke kantin untuk makan siang. Saat pulang pun sama, tidak langsung pulang, tetapi mampir dulu ke Masjid. Pokoknya Masjid menjadi tempat singgah utama yang ada di benak saya kala itu. Seolah ada magnit yang membuat saya dan teman-teman Rohis betah di sana. Mungkin hal ini disebabkan oleh fungsi Masjid yang cukup fleksibel. Mau olahraga, tinggal ke lapangan dekat Masjid. Ingin belajar, ada banyak buku-buku tersedia di sana. Jadinya bermain oke, olahraga oke, belajar Islam juga oke!

Akhirnya memasuki kelas 2 SMA, saya masuk kepengurusan, dan terpilih sebagai ketua Rohis di sana. Bahkan Ibu sempat terheran-heran ketika dipanggil kepala sekolah untuk mengklarifikasikan nama saya. Ibu mungkin bingung, bagaimana ceritanya anaknya yang dahulu Katolik bisa jadi ketua Rohis. Namun, kepala sekolah sepertinya lebih bingung lagi. Bagaimana mungkin seorang yang bernama Christian menjadi ketua Rohis? Sangat kontradiktif, bukan? Alhasil, semenjak itu nama saya mulai terdengar, bahwa yang namanya Christian itu bukan seorang Kristen, tetapi seorang Muslim.

Menjadi Pejuang Dakwah

Jika dibandingkan ketika saya sudah mengenal Islam dengan saat saya belum mengenal Islam (secara kaffah), maka saya akan menemukan banyak sekali perbedaan. Kalau dulu, berprestasi untuk mengejar dunia, tapi mulai SMA saya sudah mulai berpikir, bahwa saya prestasi tersebut bukan hanya milik saya, bukan hanya untuk orang tua, tapi prestasi itu juga sebagai bakti saya kepada Allah SWT yang telah memberikan banyak kenikmatan kepada saya.

Perubahan itu memberikan orientasi baru kepada saya dalam bersikap, sebagai manusia, dan sebagai Muslim pada khususnya. Alhamdulillah bimbingan agama setiap pekannya masih saya dapatkan. Tapi di sisi lain, saya juga suka mencari atau belajar sendiri, semata agar kepemahaman saya lebih luas lagi. Untuk itu saya gemar mengoleksi dan membaca buku-buku. Bahkan setiap weekend saya agendakan untuk mampir ke toko-toko buku (terutama toko buku Islam). Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri masih ada hambatan terbesar pada diri saya, yakni rasa malas yang terkadang hadir sewaktu-waktu.

Pun begitu, waktu terus mengalir. Proses tarbiyah dan dakwah melingkupi setiap jejak langkah dalam hidup ini. Saya merasa haus akan ilmu dan harus menyampaikan apa yang telah saya dapatkan selama ini, baik kepada orang-orang di dunia nyata maupun di dunia maya.

Maka dari itu, selepas dari Rohis, perjuangan tak pupus adanya. Amanah-amanah baru kian bergulir sebagai estafet dakwah di setiap generasinya. Hingga akhirnya saya menjadi ketua KAPMI Jakarta Pusat. Kemudian hal ini berlanjut sampai saya kuliah di Universitas Negeri Jakarta, yang pada akhirnya membawa saya kepada ranah eksekutif kemahasiswaan dan menempati beberapa jabatan strategis di berbagai lini, baik di tingkat fakultas, universitas, maupun nasional.

Nama : Christian Atanila
Panggilan : Iyan
TTL : Jakarta, 20 April 1986
Pekerjaan : Branch Manager LP3I Course Center Jatiwaringin, dan General Manager PT Graha Sukses Mandiri Edukasi

[Limo, 2 Maret 2011.]

Awalnya tulisan ini ditujukan untuk sebuah majalah. Namun karena satu dan lain hal, tidak dimuat. Akhirnya, atas ridho Allah SWT dan izin narasumber (Bang Iyan), saya putuskan untuk tetap memosting ini guna tetap memberi manfaat adanya. Allahua’lam…

http://www.bukanorangsuci.co.cc/2011/03/02/christian-pun-seorang-muslim/