Cari

sang mutarobbi

catatan seorang pembelajar

Desain High-Rest Brosur Spanduk Anies Sandi

Desain High Rest Brosur Spanduk Anies Sandi

Berikut adalah desain saya pribadi. Silakan download bagi yang memerlukan Brosur, Spanduk, Picture Broadcast, Mug untuk mendukung kampanye pemenangan paslon nomor 3 Anies-Sandi. Bagi yang butuh file .cdr silakan hubungi saya.

# Desain SPANDUK Anies Sandi

  1. Spanduk KJP Lanjut & Tambah Manfaat
  2. Spanduk DPT & Awasi Pilkada Putaran Dua 
  3. Spanduk Memuliakan & Pemberdayaan Perempuan
  4. Spanduk Bangun Stadion Milik DKI Jakarta
  5. Spanduk Transportasi Terintegrasi
  6. Spanduk KJS Lanjut & Tambah Luas
  7. Spanduk Budaya Betawi
  8. Spanduk Jakarta Kota Hijau Kota Aman

# BC Ukuran Persegi (for Socmed)

  1. Desain 1 Apapun Warnanya Gubernurnya Tetap ANIES SANDI
  2. Desain 2 Pilih Yang Kompeten Bukan Yang Memberi Uang
  3. Desain 3 Buat Kota Ini Maju Bersama
  4. Desain 4 Di TPS 5 Menit Menentukan Wajah DKI 5 Tahun Mendatang
  5. Desain 5 Profil Anies Baswedan
  6. Desain 6 Profil Sandiaga Salahuddin Uno
  7. Format .cdr (versi X4)

# Desain MUG Anies Sandi

  1. Format .jpg
  2. Format .cdr (versi X4)

# Desain Brosur Program Anies Sandi (ukuran A3, bisa juga dicetak ukuran A4)

  1. Bagian Muka 01 KJP dan Testimoni Tokoh
  2. Bagian Muka 02 KJP, OKOCE, dan OKOTRIP
  3. Bagian Belakang 03 DPnolrupiah, PPSU, Stadion, Perempuan, Lansia, Difabel
  4. Format .cdr (versi X4)
Featured post

Hukum Islam Seputar Bank Syari’ah

Beberapa kawan saya, bertanya tentang Bank Syari’ah. Mulai dari hukum bekerja di Bank Syari’ah, lalu hukum atas Bank Syari’ah itu sendiri, dan hukum atas beberapa transaksi yang terjadi di Bank Syari’ah. Selama beberapa hari saya mempelajari lewat beberapa buku, dan juga literatur online. Berikut adalah kutipan-kutipan yang bisa saya sarikan untuk para pembaca. Selamat membaca … 🙂

Continue reading “Hukum Islam Seputar Bank Syari’ah”

Featured post

Ringkasan : Menuju Jama’atul Muslimin

Ringkasan lainnya yang dapat dibaca tentang buku Menuju Jama’atul Muslimin. Silakan klik link berikut : Ringkasan Sumber 1 (ppt) | Ringkasan Sumber 2 (pdf) | Ringkasan Sumber 3 (doc)

Judul Asli: ath-Thariq ila Jama’atil Muslimin
Judul Terjemahan: Menuju Jama’atul Muslimin
Penulis: Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir
Penerbit: Robbani Press – Jakarta
Tebal: xix + 429 Halaman; 23,5 cm
ISBN: 979-9078-88-1

Cover buku "Menuju Jama’atul Muslimin".

Continue reading “Ringkasan : Menuju Jama’atul Muslimin”

Featured post

Hukum Menggunakan Uang Haram

Beberapa saat yang lalu penulis diwawancari oleh salah satu radio dakwah di Solo seputar bantuan yang akan diberikan oleh bintang film untuk korban bencana gunung Merapi. Masyarakat Islam berselisih di dalam menanggapinya, sebagian ada yang mengatakan haram, dan sebagian yang lain mengatakan halal, mana yang benar ?

Jauh-jauh sebelumnya, juga pernah heboh berkenaan bantuan dari salah satu yayasan Amerika yang memberikan bantuan kepada salah satu pesantren yang ada di Sumatra.

Continue reading “Hukum Menggunakan Uang Haram”

Featured post

Prakonvensi UN Regional Medan Rumuskan 15 Butir Kesimpulan

Medan—Prakonvensi Ujian Nasional (UN) Regional Medan merumuskan sebanyak 15 butir kesimpulan. Kelompok 1 yang membahas menejemen pelaksanaan UN merumuskan 11 butir kesimpulan, sedangkan kelompok 2 yang membahas komposisi nilai UN dalam penentuan kelulusan merumuskan empat butir kesimpulan.

Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Kemdikbud Bambang Indriyanto mengatakan, prakonvensi ini diselenggarakan untuk mencari masukan dan koreksi terhadap pelaksanaan UN, sehingga pelaksanaannya lebih kredibel dan reliabel. Rumusan yang dihasilkan ini nanti, kata dia, akan menjadi bagian dari keputusan di Konvensi UN pada 26 September mendatang, yang akan digelar di Jakarta.

Continue reading “Prakonvensi UN Regional Medan Rumuskan 15 Butir Kesimpulan”

Featured post

Duhai Hati.. Ikhlas dan Bersabarlah…

“Alhamdulillah, sampai juga,” ucapnya lirih sesaat setelah ia mengerem motor matic miliknya di tepian jalan dekat pom bensin. Sepertinya ia orang pertama yang datang. Diliriknya jam tangan yang menunjukkan waktu pukul 19.32. Ia adalah orang pertama yang hadir dekat lokasi, karena ia tidak tahu lagi jalan masuk ke gang menuju lokasi halaqohnya malam itu. Seyogianya, halaqoh malam itu dimulai jam delapan. Lewat pesan singkat ia mengetahui bahwa empunya rumah belum sampai, dan kawan-kawannya juga masih jauh dari lokasi. Meski demikian wajahnya terlihat bahagia karena ia akan bertemu saudaranya yang sholih dan luar biasa. Sudah bisa ia bayangkan, semangatnya sepekan ke depan pasti meningkat untuk menggapai ridho, berkah, dan rezeki Alloh Ta’ala. Apalagi kepahamannya tentang Islam dan dakwah juga akan bertambah seiring dengan taujihat ma’nawiyah yang selalu disampaikan sang ustadz di setiap halaqoh.

Continue reading “Duhai Hati.. Ikhlas dan Bersabarlah…”

Featured post

Mario Teguh : Menyelesaikan Sumber Rasa Malas

Video Mari Teguh dari You Tube ini disematkan untuk Anda yang ingin menghilangkan rasa malas.. Semoga Terinspirasi.. Salam Super

Featured post

Mario Teguh : Yang Menjadikan Doa Terjawab 3

Video yang disematkan dari You Tube ini kami persembahkan untuk Anda yang butuh motivasi hidup dan religi. Semoga menginspirasi… Salam Super

Featured post

Mario Teguh: Yang Menjadikan Doa Terjawab 2

Video Mari Teguh dari You tube ini disematkan untuk Anda yang senantiasa butuh motivasi hidup dan religius. Semoga menginspirasi.. Salam Super

Featured post

Mario Teguh : Yang Menjadikan Doa Terjawab

Featured post

Mario Teguh : Jangan Menunggu Kualitas

Jangan Menunggu Kualitas

Featured post

Surat Terbuka untuk yang Kami Cintai, Ustad Yusuf Supendi

Gambar

Bismillahirohmanirohim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Entah dengan kata apa kami gambarkan perasaan hormat kami padamu wahai muasis dakwah. Semoga kata-kata ini mewakili perasaan kami, kami sangat mencintaimu.Kami sadar mungkin tanpamu kami tak akan menikmati indahnya jalan ini. Jalan dimana peluh berubah menjadi nikmat, jalan dimana cerca menjadi semangat beramal. Jalan yang paling indah yang pula dilalui oleh para Nabi dan Rasul serta orang-orang beriman. Dan kaulah yang telah berjuang dengan peluhmu hingga dakwah itu sampai pada kami dan kami menikmatinya hingga saat ini.Ustad, kami mungkin tidak pernah sekalipun bertemu dengan antum begitupula antum. Tapi ada kata yang ingin kami sampaikan dari balik surat ini, kami sangat mencintaimu.

Memutih rambutmu, jenggotmu bukan pertanda lusuh. Kami yakin itulah simbol kecemerlanganmu, saksi atas segala kebersahajaanmu. Kaulah yang telah menjadi perantara cahaya Allah atas kami, bagaimana mungkin Allah tak hadirkan cahaya itu diwajahmu, ustad kami mencintaimu.

Kami hanya ingin kau tahu bahwa apa yang selama ini kau ungkapkan kepada khalayak tentang pemimpin-pemimpin jamaah ini membuat hati kami tersayat. Bukan, bukan karena kami lebih mencintai mereka daripadamu. Tapi kami mencintai mereka sama seperti kami mencintaimu, karena besarnya amal dakwah kalian. Dan mereka adalah bagian dari dakwah ini.

Ustad tentu diri yang dangkal ini tak mampu disandingkan dengan kedalamanmu dalam ilmu. Kau pasti mengenal hali ini “Seorang hamba yang menutupi aib orang lain di dunia, kelak Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.” (HR.Muslim)

Kau juga pasti telah mengetahui dan mengamalkan pula keutamaanya, serta balasannya jika kita melanggarnya.

Ustad, kami tak rela kau bersanding satu kubu dengan orang yang telah merusak agama ini. Dan seolah se-iya dengan agenda utama mereka yakni mengganggu kekokohan jamaah ini. Apakah kau tak merasa risih, ataukah tak kau hiraukan itu. Ustad ketahuilah bahwa kami sangat mencintaimu.

Atas apa yang kau ceritakan tentang rusaknya jamaah ini kami sadar betul bahwa jamaah ini adalah sekumpulan manusia, tempat khilaf dan dosa. Tapi bukankah dari yang berdosa itu lebih baik adalah orang-orang yang bertaubat. Sebagaimana Rasulullah sampaikan, “Setiap anak Adam sering melakukan dosa dan sebaik-baiknya orang yang melakukan dosa adalah orang-orang yang bertaubat”. (HR. Ibnu Majah)

Lalu mengapa kau salahkan kami yang ingin bertaubat memohon ampun kepada Rabb kami?. Lalu kau memperkeruhnya dan seolah kami memang pesakitan dan tak pantas bertaubat. Ustad ketahuilah kami mencintaimu.

Kami tak jua mengerti apa yang kau inginkan dari apa yang kau lakukan. Tapi kami meyakini bahwa kau jua mencintai kami. Kami tak lantas paham jua mengapa kau seolah bersemangat sekali mengungkap semua keburukan saudaramu disaat kami berusaha untuk bangkit. Padahal tentu kau sangat memahami betul, jauh lebih paham daripada kami bagaimana menjaga keutuhan jamaah ini. Bagaimana sulitnya membangun citra dakwah yang baik dimata masyarakat. Namun setelah apa yang terus kau timpakan ini ada yang ingin kami sampaikan padamu . kami sangat mencintaimu.

Kami rindu saat kau menyembuhkan haus kami dari dahaga ilmu, kami rindu saat kau bakar semangat kami dengan hujaman nasihatmu,tapi bukan dengan cara seperti ini.

Ustad, kau tahu betapa cintanya kami pada jalan ini, bukan pada golongan ini. Dan apapun yang merusak cinta kami terhadapnya maka kami akan menolaknya.

Dalam dakwah pasti ada rintangan, ada ujian itulah tabiat dakwah sesungguhnya. Dan kami ingin lalui ujian-ujian dakwah ini bersamamu. Melewati masa sulit ini dengan berjuang bersamamu, dibarisan ini, barisan yang kau bina.

Ustad yang kami cintai karena Allah, percayalah jika kau mengetahui cinta ini kepadamu tentu kau tak akan sampai hati melukainya. Bahkan kau tak mungkin membuatnya gusar terlebih lagi futur dan terlempar.

Ustad, kami ingin sampaikan bahwa, Allah yang menjaga dakwah ini Ia pula yang akan memudahkan setiap langkah-langkahnya. Tak ada satupun yang mampu menghalangi dan memadamkan cahaya dakwah ini. Kami sadar kami banyak kelemahan maka itu kami memohon ampun dan pertolongan hanya kepada Allah.

Di akhir surat ini , kami ingin sampaikan salam dari saudara-saudara kami yang masih ikhlas dalam perjuangannya. Yang masih murni dalam setiap amal dakwahnya, yang masih bergelora semangat kebaikannya, yang masih kokoh dalam barisan jamaah ini. kami sangat mencintaimu.

Barakallahufik ya ustadz,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

5 Februari 2013 / 23 Rabiul Awwal 1434 H

Dari sudut kampung,
Abu Niyazi

Featured post

Usaha Bersama Keluarga (Iqtishodiah)

Dua pekan lalu, disampaikan oleh seorang ustad tentang arahan-arahan yang harus dilakukan pada bulan Safar ini. Memang hampir setiap bulan hijriah, kami selalu mendapatkan arahan untuk mampu melewati 1 bulan tersebut dengan nilai-nilai kebaikan yang banyak. Arahan untuk menjadi sholeh secara individu dan juga sholeh sosial sudah biasa. Kini ada arahan yang berbeda, yaitu arahan untuk memiliki usaha bersama keluarga (iqtishodiah).

Continue reading “Usaha Bersama Keluarga (Iqtishodiah)”

Featured post

Pemahaman-Pemahaman Keliru tentang Para Bidadari

Oleh Umar Abdullah

Ngobrolin bidadari memang asyik. Bikin hati kita berbunga-bunga penuh harap bisa bertemu bahkan memilikinya. Tapi, ketika muncul pemahaman-pemahaman yang keliru tentang bidadari, membuat hati jadi terusik. Ingin meluruskan agar aqidah Umat, khususnya adik-adik kita, selamat dari pemahaman-pemahaman yang muncul dari khayalan-khayalan yang salah. Beberapa pemahaman keliru yang sempat saya catat adalah sebagai berikut:

ANGGAPAN WANITA DUNIA JIKA MASUK SURGA MENJADI BIDADARI

Padahal wanita yang pernah hidup di alam dunia dengan bidadari adalah dua makhluk yang berbeda. Wanita yang pernah hidup di alam dunia adalah keturunan Adam dan Hawa sehingga disebut Wanita Bani Adam, sementara Bidadari bukan keturunan Adam dan Hawa. Bidadari diciptakan dari tetesan hujan dari awan di bawah Arsy (dalam riwayat lain dari za’faran), sementara Wanita Bani Adam diciptakan dari tanah.

Berkata Abu Ahwash: kami mendengar dalam suatu riwayat bahwasannya segumpal awan menurunkan hujan di bawah ‘Arsy. Maka dari tetesan-tetesan hujan itulah para bidadari itu diciptakan. Kemudian masing-masing ditempatkan dalam sebuah kemah di tepi sungai, luasnya 40 mil. Kemah itu tidak berpintu, sehinggga ketika seorang wali Allah datang di kemah itu, ternyata kemah itu tidak punya satu pintu pun. Dengan demikian dia tahu bahwa mata makhluk apa pun yang melihat mereka, baik itu malaikat maupun para pelayan Surga tidak sampai mempengaruhi mereka. Bidadari-bidadari itu memang wanita-wanita yang dibatasi (maqshuuraat), yakni dibatasi pandangan mata mereka dari segala makluk, selain suami mereka.

Wanita Bani Adam menjalani proses dari janin, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Ada yang terbedah keperawanannya, ada yang tetap perawan hingga ajalnya. Sementara Bidadari diciptakan langsung jadi gadis perawan dan terus gadis perawan.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya. (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. Dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al-Waaqi’ah [56]: 35-40)

Mungkin, yang menyebabkan kekacauan pemahaman adalah Wanita Bani Adam yang masuk Surga akan diubah bentuknya menjadi wanita muda dan selalu muda, usia 33 tahun, cantik, berkulit putih, perawan, penuh cinta, nafsu dan kekuatan berlipat 100, tidak haid dan tidak melahirkan (kecuali jika ingin punya anak),  tidak kencing dan tidak berak, tidak beringus dan berludah, tidak pernah tidur, tidak pernah sakit, tidak mati lagi, dan menjadi istri laki-laki yang masuk Surga, sehingga disangka sama dengan Bidadari.

PERUBAHAN UKURAN  TUBUH, WARNA KULIT, DAN USIA BANI ADAM

Imam Ahmad dan ath-Thabrani meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Penghuni Surga masuk (ke sana) dalam keadaan masih muda, berkulit putih, berambut ikal, bercelak mata, sebaya dengan anak seusia 33 tahun, bentuk mereka seperti Adam, yaitu setinggi enam puluh hasta dengan lebar tujuh hasta.”

NENEK-NENEK JADI GADIS KEMBALI

Abu Bakar bin Abi Syaibah meriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Rasulullah  saw pernah didatangi seorang nenek dari kalangan Anshar. Maka nenek itu berkata, ”Ya Rasul Allah, doakan aku kepada Allah agar memasukkan aku ke Surga.”

Beliau menjawab, ”Sesungguhnya di Surga tidak dimasuki nenek-nenek.”

Lalu Rasulullah saw pergi shalat, kemudian pulang kepada Aisyah.

Aisyah mengadu, ”Nenek itu merasa sedih dan susah sekali mendengar perkataan engkau tadi.”

Maka beliau bersabda, ”Sesungguhnya memang begitu. Sesungguhnya apabila Allah telah memasukkan nenek-nenek ke dalam Surga, maka mereka diubah-Nya menjadi gadis kembali.”

NAFSU DAN KEKUATAN BERLIPAT 100

Imam Ahmad meriwayatkan dari Zaid bin Arqam, dia bercerita: Ada seorang Yahudi datang kepada Nabi saw lalu berkata, “Hai Abul Qasim, bukankah kamu beranggapan penghuni Surga itu makan dan minum?”

Sebelumnya Yahudi itu berkata kepada teman-temannya, “Kalau Muhammad mengiyakan pertanyaanku, maka aku akan mendebatnya.”

Zaid berkata (melanjutkan ceritanya): Maka Rasululah saw menjawab, “Benar, demi Allah yang menggenggam jiwaku, sesunguhnya tiap orang dari mereka benar-benar diberi kekuatan 100 orang dalam makan, minum, syahwat, dan berhubungan seksual.”

Kata Zaid: maka Yahudi itu berkata, “Sesungguhnya orang yang makan dan minum mesti membuang hajat.”

Rasul bersabda, “Cara membuang hajat tiap dari orang dari mereka dengan mengeluarkan keringat yang mengucur dari kulit, aroma harumnya seperti minyak kesturi. Dan tiba-tiba perut mereka menjadi kosong kembali.”

TIDAK TIDUR

Al-Hafizh Abu Bakar bin Mardawaih meriwayatkan dari Jabir ra, sabda Rasulullah saw, “Tidur adalah saudaranya mati. Dan sesungguhnya penghuni Surga itu tidak tidur.”

Menjadi Istri Laki-laki Bani Adam yang Masuk Surga

Rasulullah saw bersabda:

”Maka seorang lelaki penghuni surga masuk ke sana menemui 72 orang istri (bidadari) yang diciptakan Allah secara langsung dan dua orang istri lainnya dari Bani Adam. Kedua wanita Bani Adam itu mendapat keutamaan atas lainnya yang dikehendaki Allah Ta’ala, karena ibadah mereka kepada Allah semasa di dunia.

Lelaki itu menemui yang pertama dari kedua istrinya itu di sebuah kamar dari permata yaqut, di atas ranjang dari emas bertahtakan mutiara. Pada ranjang itu ada 70 tingkat sutra tipis dan sutra tebal. Dan sesungguhnya laki-laki itu benar-benar meletakkan tangannya di antara kedua pundak istrinya. Kemudian dia bisa melihat tangannya itu dari dada istrinya di balik baju, daging, dan kulitnya. Dan sesungguhnya dia benar-benar dapat melihat sumsum betis wanita itu seperti salah seorang dari kamu sekalian melihat kawat perak dalam permata yaqut.

Ketika laki-laki itu dalam keadaan demikian, tiba-tiba terdengarlah suatu seruan: ”Sesungguhnya kami benar-benar tahu bahwa kamu tidak akan bosan atau membosankan. Tapi ketahuilah, sesungguhnya kamu mempunyai istri-istri yang lain.”

Maka dia pun keluar, lalu mendatangi istri-istrinya satu persatu. Setiap kali tiba pada salah seorang dari mereka, maka dia disambut dengan kata-kata, ”Demi Allah, di Surga ini tidak ada makhluk yang lebih elok darimu, dan di Surga ini tidak ada makhluk yang lebih aku cintai selain kamu.” (Hadits ini cukup tsiqat)

ISTRI YANG TIDAK HAID, NIFAS, BERAK, BERINGUS DAN BERLUDAH

Abdulah bin Mubarak meriwayatkan dari Abu Sa’id dari Nabi saw tentang firman Allah Ta’ala, ”lahum fiiHaa azwaajun muthaHHarah,” bahwa beliau bersabda, ”(Istri-istri yang disucikan) dari haid, nifas, tinja, ingus, dan ludah.”

Tetapi, Wanita Bani Adam yang masuk Surga tetaplah Wanita Bani Adam. Hanya saja sudah berubah bentuk menjadi lebih sempurna dibanding ketika hidup di dunia, dan tidak berubah menjadi bidadari. Perubahan bentuk tersebut adalah karunia Allah agar Wanita Bani Adam bisa menikmati kenikmatan Surga dengan kepuasan yang selalu meningkat.

Allah SWT berfirman:

“Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam Surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan.” Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya.” Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 68-72)

Dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id , dari Nabi saw bercerita,

“Maka terdengarlah seruan, ‘Sesungguhnya kamu sekalian akan tetap hidup, tanpa mengalami mati selama-lamanya. Sesungguhnya kamu sekalian akan tetap sehat, tanpa mengalami sakit selama-lamanya. Sesungguhnya kamu sekalian akan tetap muda, tanpa mengalami tua selama-lamanya. Dan sesungguhnya kamu sekalian akan tetap nikmat, tanpa mengalami penderitaan selama-lamanya.’ Nabi bersabda, “Empat perkara inilah yang diserukan.’” (HR. Ahmad dan Muslim)

Beberapa contoh Wanita Bani Adam yang masuk Surga yang diberitakan Rasulullah saw di antaranya: Khadijah binti Khuwailid istri Rasulullah saw, Maryam binti Imran Sang Perawan ibunda Nabi ’Isa as, Asiyah mantan istri Fir’aun, Fathimah binti Rasulullah saw, ’Aisyah binti Abu Bakar istri Rasulullah saw, Hafshah binti ’Umar bin Khaththab, dan wanita milik Umar bin Khaththab di Surga.

Khadijah binti Khuwailid

Abu Hurairah ra menyatakan bahwa Jibril datang kepada Nabi saw seraya berkata, “Wahai Rasulullah, Khadijah sedang berjalan kemari. Ia membawa wadah yang berisi kuah, makanan, atau minuman. Jika ia sampai kepadamu, maka katakanlah bahwa Tuhannya dan aku menyampaikan salam kepadanya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepadanya bahwa dia akan memperoleh sebuah rumah dari bambu di Surga, dimana tidak ada kebisingan maupun susah payah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

MARYAM BINTI IMRAN DAN ASIYAH PEMELIHARA MUSA as

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Fathimah ra banwa dia pernah bertanya kepada Nabi saw, “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat tinggal ibuku, Khadijah?”

Nabi menjawab, “Di sebuah rumah dari bambu dimana tidak ada perkataan yang sia-sia maupun susah payah, bersama Maryam dan Asiyah (mantan) istri Fir’aun.”

“Apakah seperti bambu ini?” tanya Fathimah pula, yang beliau jawab, “Bukan, tapi dari bambu yang tersusun dengan mutiara besar, mutiara kecil, dan permata yaqut.” (Hadits gharib)

FATHIMAH BINTI RASULILLAH

Rasulullah Muhammad saw bersabda, “Para pemimpin wanita ahli Surga selain Maryam binti ‘Imran adalah Fathimah, Khadijah, dan Asiyah istri Fir’aun.” (HR. Thabrani)

‘AISYAH BINTI ABU BAKAR

Ibnu Abu Mulaikah menyatakan bahwa ‘Aisyah ra berkata bahwa Jibril datang kepada Nabi saw (dalam mimpi) dengan membawa gambarnya dalam sepotong kain sutra hijau seraya berkata, “Inilah istrimu di dunia dan akhirat.” (HR. Tirmidzi)

HAFSHAH BINTI UMAR BIN KHATHTHAB

Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa Nabi saw menceraikan Hafshah dan menjatuhkan talak satu kepadanya. Tapi, tidak lama kemudian beliau merujuknya kembali atas perintah yang dibawa oleh Jibril. Jibril berkata, “Dia (Hafshah) adalah seorang ahli puasa dan shalat. Dia adalah istrimu di Surga.”

WANITA MILIK UMAR BIN KHATHTHAB

Dari Rasulullah beliau bersabda: Ketika tidur, tiba-tiba aku bermimpi melihat diriku berada di dalam Surga dan menyaksikan seorang wanita sedang berwudhu di samping sebuah istana. Aku lalu bertanya: Milik siapakah istana ini? Mereka menjawab: Milik Umar bin Khaththab. Tiba-tiba saja aku teringat akan kecemburuan Umar. Maka aku pun pergi meninggalkan tempat itu. Lebih lanjut Abu Hurairah ra mengatakan: Mendengar itu seketika Umar menangis sedang kami semua berada di majlis tersebut bersama Rasulullah saw. Kemudian Umar berkata: Demi Allah, wahai Rasulullah, apakah kepada engkau aku cemburu? (HR. Bukhari, Muslim. Ibnu Majah, dan Ahmad)

ANGGAPAN WANITA YANG BERJUANG MENEGAKKAN SYARIAH SEPERTI BIDADARI

Padahal Bidadari tidak berjuang menegakkan syariat Islam, tidak berdakwah, tidak mengajarkan Islam, apalagi beramar ma`ruf nahi munkar. Bagaimana akan berjuang menegakkan syariat Islam, karena setelah diciptakan mereka langsung dipingit dalam kemah-kemah.

Allah SWT berfirman:

“Di dalam Surga itu ada bidadari-bidadari yang baik- baik lagi cantik-cantik. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam kemah-kemah.” (TQS. Ar-Rahmaan [55]: 70-72)

Bidadari tidak berinteraksi dengan siapa pun. Mereka tersimpan dan tidak tersentuh tangan makhluk apapun, kecuali oleh suami mereka nanti.

Allah SWT berfirman:

“Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan. Di dalam syurga-syurga yang penuh nikmat. Di atas takhta-takhta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. (Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya. Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya. Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.” (TQS. Ash Shaaffaat [37]: 40-49)

“Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (TQS. Ar-Rahmaan [55]: 56-57)

Tugas mereka adalah menunggu kedatangan suami mereka yaitu laki-laki Bani Adam yang akan masuk surga. Mereka bernyanyi.

Dari Ali bin Abi Thalib kw. bahwasannya Rasulullah saw bersabda,

”Dalam Surga ada tempat pertemuan para bidadari. (Di sana) mereka bernyanyi dengan suara-suara yang tidak pernah didengar semisalnya oleh makhluk apapun. Mereka melantunkan (lirik-lirik lagu): ’Kami wanita alam baka, takkan binasa selamanya. Kami wanita ceria, tak kenal susah selamanya, Kami wanita yang rela, tak kenal murka selamanya. Bahagialah laki-laki yang menjadi milik kami. (Bahagialah manusia), yang kami milik dia.’” (Hadits Shahih Riwayat at-Tirmidzi)

Setelah laki-laki Bani Adam masuk Surga, para bidadari tersebut dinikahkan oleh Allah dengan laki-laki tersebut.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan. Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”. Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.” (TQS. Ath Thuur [52]: 17-20)

Setelah dinikahkan dengan laki-laki Bani Adam, Bidadari kemudian melayani hubungan seksual. Kemampuan seksual Bidadari membuat laki-laki Bani Adam sibuk merasakan kenikmatan seksual yang tiada tara, yang semakin nikmat dan semakin nikmat.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (syughul) (mereka). Mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (TQS. Yaasiin [36]: 55-56)

Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, dan banyak para mufassir lainnya mengatakan, bahwa kesibukan (syughul) penghuni Surga pada ayat ini yang dimaksud ialah membedah keperawanan.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, pernah ditanyakan , ‘Ya Rasulullah, apakah orang lelaki melakukan persetubuhan di Surga?’ – dan menurut riwayat lain, ‘Apakah kita menyetubuhi istri-istri kita?’–  Rasul menjawab, ‘Demi Allah yang menggenggam jiwaku, sesungguhnya seorang lelaki dalam satu pagi benar-benar menyetubuhi seratus perawan.’” (HR. al-Bazzar, al-Qurthubi, dan Ibnu Majah)

Jika Bidadari diibaratkan dengan wanita Bani Adam yang berjuang menegakkan Syariat Islam, tentu hal ini tidak saja sangat jauh dari fakta, namun juga melecehkan perjuangan wanita Bani Adam, baik dalam urusan pribadi maupun dalam urusan masyarakat bahkan negara.

Dalam urusan pribadi, wanita Bani Adam melakukan shalat, puasa, dan ibadah. Sementara (sejauh ilmu yang saya punya) Bidadari tidak shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Dalam urusan rumah tangga, para wanita Bani Adam berusaha mengatur urusan rumah tangganya walau terkadang sangat melelahkan. Mana ada Bidadari yang ngepel lantai, mencuci pakaian, menjahit celana yang robek, dan memasak. Belum lagi wanita Bani Adam mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, dan mendidik anak, yang tidak pernah dilakukan para Bidadari. Padahal semua aktivitas itu berbuah pahala jihad fi sabilillah, sebuah ibadah yang paling agung.

Dalam urusan masyarakat dan negara, wanita Bani Adam bersedekah, menolong saudaranya yang kesusahan, mendakwahkan Islam, mengajarkan Islam, beramar ma`ruf nahi munkar kepada siapa pun termasuk kepada penguasa. Semua itu tidak dilakukan oleh para bidadari.

Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (TQS. At-Taubah [9]: 71-72)

Rasulullah saw bahkan menyampaikan bahwa Wanita Bani Adam lebih utama dibanding bidadari. Ada sebuah hadits yang cukup panjang dari Ummu Salamah.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari Ummu Salamah ra, dia berkata,

Saya berkata, ”Ya Rasulullah, beritahu saya mana yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari?”

Beliau bersabda, ”Wanita dunia lebih utama daripada bidadari, seperti utamanya zhahir atas batin.”

Saya bertanya, “Ya Rasulullah, karena apanya?”

Beliau menjawab, ”Karena shalat, puasa, dan ibadah mereka kepada Allah. Allah memberi cahaya pada wajah mereka, dan mengenakan sutera pada tubuh mereka. Warna kulit mereka putih, pakaian mereka hijau, perhiasan mereka kuning, pedupaan mereka mutiara, dan sisir mereka emas. Mereka berkata, ”Kami adalah wanita-wanita abadi, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita bahagia, tidak akan miskin selama-lamanya. Kami adalah wanita-wanita penduduk tetap, tidak akan pindah selama-lamanya. Dan ketahuilah, kami adalah wanita-wanita yang telah ridha, tidak akan marah selama-lamanya. Berbahagialah orang yang menjadi milik kami, dan kami menjadi miliknya.”

Dengan demikian, lagu-lagu, syair-syair, dan perumpamaan-perumpamaan yang mengibaratkan wanita pejuang syari’ah dengan bidadari, selain jauh dari fakta dan melecehkan arti perjuangan, juga menyalahi Aqidah Islam.

ANGGAPAN ADA BIDADARI DI DUNIA

Mungkin yang dimaksud “ah itu kan cuma pengibaratan, bukan makna yang sebenarnya”. Maka pengibaratan pun harus sesuai fakta atau jika Allah dan Rasul-Nya yang memberi pengibaratan, karena Allah dan Rasul-Nya lebih tahu hakekat segala sesuatu dibanding kita yang sangat terbatas pengetahuannya.

Misalnya Rasulullah saw pernah mengibaratkan masyarakat ibarat penumpang sebuah kapal. Maka kita boleh mengatakan bahwa negara ini sudah seperti kapal yang sudah berlubang di sana sini tinggal tunggu tenggelamnya saja. Atau Khalid bin Walid oleh Rasulullah saw digelari Pedang Allah yang terhunus. Maka kita boleh mengatakan ke musuh Islam bahwa kami akan kirimkan pedang yang terhunus, walaupun yang dimaksud adalah pasukan perang.

Sementara sepanjang pengetahuan saya, Rasulullah saw tidak pernah memakai bidadari (huurun ’in/ yang bermata jeli) untuk mengibaratkan sesuatu. Yang ada Rasulullah saw mengibaratkan rumah beliau seperti surga beliau dengan sabdanya ”Baytiy Jannatiy”. Rasulullah saw tidak pernah menyifati istri-istri beliau dengan bidadari. Hadits-hadits yang ada memberi kabar bahwa para ummul mu`minin akan menjadi istri Rasulullah saw di Surga nanti. Inilah yang harus dipakai.

ANGGAPAN MENIKAH DENGAN BIDADARI DI DUNIA

Adapun mengibaratkan istrinya yang baru dinikahinya dengan bidadari, hanya karena istrinya memakai kerudung, lalu ia memberitahu ke temannya bahwa ”saya baru saja menikah dengan bidadari”, tentu hal ini sangat keliru.

Karena bidadari memang memakai kerudung.

Rasulullah saw bersabda, ”Andaikan ada seorang wanita penghuni surga mengintip ke bumi, niscaya dia menerangi ruang antara bumi dan langit, dan niscaya aromanya memenuhi ruang antara keduanya. Dan sesungguhnya kerudung di atas kepalanya lebih baik daripada dunia seisinya.” (HR. Bukhari)

Namun bidadari itu dinikahkan di Surga yang terletak di atas Langit Dunia. Bukan di kota manapun yang berada di bawah Langit Dunia. Bidadari dinikahkan setelah Kiamat tiba, bukan dinikahkan sebelum Kiamat tiba. Bidadari dinikahkan oleh Allah, bukan oleh wali nikah yang hanya seorang manusia.

ANGGAPAN ADA BIDADARI TURUN DARI KAHYANGAN

Ini adalah khayalan dalam cerita Joko Tarub. Pelangi dikhayalkan sebagai jembatan para bidadari yang turun ke bumi untuk mandi di sebuah telaga. Lalu Joko Tarub mencuri selendang salah seorang bidadari sehingga ia tidak bisa terbang lagi ke Surga.

Khayalan ini jelas bertentangan dengan aqidah Islam. Karena bidadari tidak akan keluar dari Surga. Sehingga tidak ada bidadari yang mandi ke bumi. Hadits di atas pun menggunakan kata “andaikan” sekedar untuk memberi gambaran bagaimana cahaya dan aroma bidadari. Artinya tidak ada bidadari turun ke bumi, apalagi mempertontonkan aurat untuk mandi di telaga sebagaimana banyak digambarkan di lukisan-lukisan di tanah Jawa.

Continue reading “Pemahaman-Pemahaman Keliru tentang Para Bidadari”

Featured post

Bidadari-bidadari Yang Disegerakan

dakwatuna.com – Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda: “Selalu wasiatkan kebaikan kepada para wanita. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian paksa diri untuk meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu, wasiatkanlah kebaikan kepada para wanita.” (HR. Al-Bukhari)

Wanita adalah sebuah maha karya Allah. Dibalik kelembutannya ada kekuatan yang dapat menggerakkan sebuah laju peradaban. Islam dengan segala kemuliaannya telah berhasil meletakkan dengan ideal posisi kaum wanita dalam gempita kehidupan. Dan fakta sejarah pun mengungkapnya dengan elok, bahwa di setiap keberhasilan orang-orang besar selalu ada wanita-wanita kuat di belakangnya. Tapi, tidak semua wanita berkenan menempati posisi-posisi itu. Dengan hadirnya racun-racun demokrasi, omong kosong HAM atau bualan feminisme, wanita telah kehilangan karakter-karakter dasar kemanusiaannya. Fungsi-fungsi wanita telah terdistorsi dari letak fitrahnya.

Namun, di tengah kerusakan pemahaman yang semakin kuat, ada sebagian wanita yang tetap menjunjung tinggi martabat mereka. Memelihara nilai-nilai kefitrahan mereka sebagai seorang hamba. Pengorbanan dan perjuangan telah menjadikan para wanita-wanita ini bak bidadari-bidadari surga yang Allah segerakan kehadirannya. Inilah wanita-wanita yang membuat resah para bidadari-bidadari Surga karena kemuliaannya. Menerbitkan cemburu di ufuk hati para bidadari Surga.

1.   Ibu: Oase Cinta Yang Takkan Kering

“Makan malamlah bersama Ibumu hingga ia senang.

 Hal itu lebih aku senangi daripada haji sunnah yang kamu kerjakan.”

(Al-Hasan bin Amr Rahimahullahu)

Hijrah bukan semata keputusan ideologis-teologis, lebih jauh hijrah adalah sebuah keputusan psikologis, terlebih dalam konteks di saat kita dalam posisi seorang anak. Dan hal inilah yang dirasakan oleh seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiyallahu ‘Anhu seorang lelaki mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Aku berjanji setia kepadamu wahai Rasulullah untuk berhijrah. Tetapi aku meninggalkan orang tuaku dalam keadaan terus menangis.” Ucap lelaki itu. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Pulanglah kepada keduanya. Buatlah keduanya tertawa, sebagaimana kau telah membuatnya menangis.” (HR. Muslim)

Ibu, adalah representasi bidadari surga yang paling terang. Hatinya adalah oase cinta kehidupan yang menyejukkan, airnya bening dan tak pernah menemui kekeringan. Kasih sayang dan pelukannya adalah hembus angin kedamaian. Jasa-jasanya takkan pernah dapat terbilang, sekalipun dengan formula-formula canggih matematika atau fisika modern.

Imam Bukhari dalam Shahih Al Adabul Mufrad No.9 meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa suatu hari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma melihat seorang menggendong Ibunya untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana saja sang Ibu menginginkan. Kemudian orang tersebut bertanya, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?”, “Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu” Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.

Pada kisah lain yang diceritakan Abul Faraj Rahimahullahu. Sesungguhnya seorang laki-laki datang kepada Umar lalu berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai ibu yang sudah tua renta. Dia tidak menunaikan keperluannya kecuali punggungku yang menjadi tanggungannya. Apakah aku sudah membuatnya ridha dan bisa berpaling darinya? Apakah aku sudah menunaikan kewajiban kepadanya?” Umar Radhiyallahu ‘Anhu menjawab, “Belum”. “Bukankah aku telah membawanya dengan punggungku dan aku merelakan hal itu untuknya.” tukas lelaki itu. “Tapi, dia telah melakukannya dan dia berharap agar engkau hidup dan tetap berada di pangkuannya. Sebaliknya, engkau melakukannya dan berharap untuk segera berpisah dengannya,” tegas Umar Radhiyallahu ‘Anhu, sehingga membuat orang itu tak lagi sanggup mengeluarkan kata-kata.

Sebesar apapun pengorbanan yang kita berikan pada Ibu, se-zarah pun tak akan dapat menggantikan pengorbanan yang diberikan ibu kepada kita. Dengan memahami bahwa bakti dan pengorbanan kita tak akan pernah bisa membalas kebaikan ibu, semoga bisa menyadarkan kita untuk selalu memahami dan menyelami keinginannya.

Di dunia ini, tak akan pernah kita temukan cinta kasih seindah cinta kasih seorang Ibu. Tentang hal ini dengan apik Imam Adz Dzahabi rahimahullahu menguraikan, “Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan yang serasa sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dia telah menyusuimu dengan air susunya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dia bersihkan kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan, dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan kesedihan yang panjang. Dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu, dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka ia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras. Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlaq yang tidak baik. Dia selalu mendoakanmu agar mendapat petunjuk, baik di dalam sunyi maupun ditempat terbuka. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan ia haus. Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat. Begitu berat rasanya bagimu memeliharanya, padahal itu urusan yang mudah…”

Ibu, benar-benar bidadari Surga yang Allah turunkan dengan segera. Maka, sampaikanlah kepadanya betapa kita mencintainya, dan berterima kasihlah atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya kepada kita. Semoga Allah mengampuni dosanya, memberkahi usianya, dan mengumpulkan kita kembali dalam surgaNya.

Ibu, Poros Awal Peradaban

“Karir terbaik seorang wanita adalah menjadi ibu rumah tangga” (Mario Teguh)

Anak yang unggul hanya akan lahir dari ibu yang unggul. Maka, sudah semestinya tidak layak lagi ada pandangan bahwa menjadi Ibu rumah tangga adalah sebuah tindakan pengekangan bagi para wanita untuk mengembangkan potensi-potensinya. Adalah para penganut feminisme, menggugat secara serampangan pembagian wilayah tanggung jawab antara kaum pria dan wanita. Para feminis beranggapan wilayah kerja wanita yang lebih cenderung pada ranah private adalah bentuk ketidakadilan terhadap kaum wanita. Lebih jauh mereka beranggapan melalui keikutsertaan wanita pada ranah publik dapat meningkatkan kualitas dan kapasitas kaum wanita. Benarkah demikian?

Saya selalu ingat apa yang dikatakan ibu saya, “Perempuan bagiannya di rumah, sedang laki-laki di luar rumah.” Sepintas terdengar sangat diskriminatif. Tapi, makin lama saya makin paham bahwa inilah yang dimaksud Job Descpription. Layaknya sebuah organisasi, keluarga pun mutlak memiliki job description. Dan hal yang harus kita pahami adalah tidak ada yang menjamin seorang yang memiliki wilayah kerja di sektor publik akan memiliki kemuliaan dan kualitas lebih baik dari seorang ibu yang memiliki wilayah tanggungjawab pada sektor privat. Karena semua kemuliaan mutlak hanya akan dipetik dari ketaqwaan dan ketaatan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga kita dapat renungkan apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. An-Nisaa’ ayat 32, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ibu, sebagai seorang ‘manajer’ rumah tangga adalah sebuah entitas terpenting dalam konteks pembentukan sebuah generasi. Tanpa seorang ibu yang berkualitas takkan lahir para manusia-manusia berkualitas. Ibulah, madrasah peradaban yang paling awal. Dari para ibulah cetak biru sebuah poros peradaban ditentukan. Kesungguhan para ibu men-tarbiyah keturunannya adalah langkah nyata rekonsiliasi sebuah bangsa. Dan kerja-kerja macam ini, bahkan para bidadari surga pun belum tentu mampu melakukannya. Dengan kesungguhan inilah, bahkan para bidadari pun akan mencemburuinya.

2.   Wanita Shalihah: Pesona Di atas Pesona

Ia mutiara terindah dunia
Bunga terharum sepanjang masa
Ada cahaya di wajahnya, Betapa indah pesonanya
Bidadari bermata jeli pun cemburu padanya
Kelak, ia menjadi bidadari surga, Terindah dari yang ada

(Hanan)

Ya, bidadari surga yang Allah segerakan berikutnya adalah wanita shalihah. Konteks tulisan ini sama sekali bukan tentang fisik. Kita hanya akan membahas hal-hal substansial yang bernama kesalehan. Untuk itu, cukuplah dialog penuh ‘ibrah antara Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallamyang didokumentasikan oleh Imam Ath-Thabrani sebagai pecut penyemangat, pengobar ruh kesalehan.

Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Wahai Rasulullah, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jelaskanlah kepadaku firman Subhanahu wa Ta’ala tentang bidadari-bidadari yang bermata jelita.” (QS. Ad-Dukhan: 54) Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar.”

Aku berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, “Laksana mutiara yang tersimpan baik.” (Al-Waqi’ah: 23) Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”

Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, “Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.” (Ar-Rahman: 70) Beliau menjawab, “Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita.”

Aku berkata lagi, “Jelaskan kepadaku firman Allah, “Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik.” (Ash-Shaffat: 49) Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”

Aku berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, Penuh cinta lagi sebaya umurnya” (Al-Waqi’ah: 37) Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli” Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Aku bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?” Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga? Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaqnya paling bagus, lalu dia berkata, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaqnya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya”. Wahai Ummu Salamah, akhlaq yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.”

Keshalihan dan akhlaq baiklah sumber kemuliaan, semoga kita dapat meraihnya. Amiin.

Karya : Jenderal Unyil
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/18234/bidadari-bidadari-surga-yang-disegerakan/#ixzz2C65QI4uh

Featured post

Cemburu Dalam Islam

Dalam islam ternyata kecemburuan itu diatur sedemikian rupa sehingga menjadi ladang amal bagi orang menderita rasa cemburu didalam dadanya,artikel ini sedikit mengulas tentang kecemburuan didalam rumah tangga (walopun blom nikah kan kudu belajar juga) yang kudapatkan dari sini,selamat membaca.

MENGENDALIKAN RASA CEMBURU DALAM RUMAH TANGGA

Perasaan cemburu adalah ketidaksukaan bergabungnya orang lain pada haknya.Sesungguhnya perasaan cemburu adalah tabiat yang alami. Merupakan fitrah yang tercipta pada diri setiap manusia, sesuai dengan tabiat manusiawi yang dipupuk dengan nilai-nilai keimanan. Ia berfungsi sebagai penjaga kemuliaan dan kehormatan manusia. Akan tetapi, perasaan cemburu tersebut haruslah sesuai dengan aturan agama yang mengutamakan kesabaran, ilmu, keadilan, kebijaksanaan, kejujuran, ketenangan dan kelembutan dalam semua perkara.

Continue reading “Cemburu Dalam Islam”

Featured post

Saat Cemburu Menyapa

Cemburu merupakan tabiat wanita. Ini juga dialami para istri Rasulullah shollollohu ‘alaihi wasallam dan sahabiyyah yang lain. Namun tentu saja, kecemburuan ini tidak serta-merta membutakan hati mereka. Bagaimana dengan kita?

Cemburu tak hanya milik lelaki, tapi juga milik kaum wanita. Bahkan, wanitalah yang dominan memiliki sifat yang satu ini karena merupakan tabiatnya. Perasaan cemburu ini paling banyak muncul pada pasangan suami-istri. (Fathul Bari, 9/384)

Continue reading “Saat Cemburu Menyapa”

Featured post

Mata dan Ikhsan

Dalam sebuah hadits dikisahkan, pada hari kiamat ada sekelompok orang yang membawa hasanat (kebaikan) yang sangat banyak. Bahkan, Rasul menyebutkan kebaikan itu bagaikan sebuah gunung. Tapi ternyata, Allah SWT tak memandang apa-apa terhadap prestasi kebaikan itu. Allah menjadikan kebaikan itu tak berbobot, seperti debu yang beterbangan.

Continue reading “Mata dan Ikhsan”

Featured post

Wanita Dicipta Untuk Dilindungi…

Allah SWT tidak menciptakan wanita dari kepala laki-laki untuk dijadikan atasannya. Tidak juga Allah SWT ciptakan wanita dari kaki laki-laki untuk dijadikan bawahannya. Tetapi Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dekat dengan lenganya untuk dilindunginya, dan dekat dengan hatinya untuk dicintainya.

Allah tidak menciptakan wanita sebagai komplementer atau sebagai barang substitusi apalagi sekedar objek buat laki-laki. Tetapi Allah menciptakan wanita sebagai teman yang mendampingi hidup Adam tatkala kesepian di surga. Juga Allah ciptakan wanita sebagai pasangan hidup laki-laki yang akan menyempurnakan hidupnya sekaligus sebab lahirnya generasi, disamping tunduk dan beribadah kepada Allah tentunya.

Continue reading “Wanita Dicipta Untuk Dilindungi…”

Featured post

Tetaplah Tersenyum…

Bila kondisi hari ini masih seperti kemarin di mana harapan belum menjelma menjadi nyata. Tetaplah tersenyum. Bukan berarti Allah mengabaikan doa-doa kita. Kita tahu, Allah adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan doa-doa hamba-Nya.

“Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya…” (QS Al mu’min:60).

Tak ada yang dapat meragukan janji-Nya. Doa kepada-Nya ibarat sebuah investasi. Tak akan pernah membuat investornya merugi. Karena penjaminnya adalah Dzat Yang Maha Pemurah, Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dzat Yang Maha Welas Asih itu, tak akan pernah ingkar janji. Tidak akan sia-sia munajat yang kita mohonkan pada-Nya, baik di waktu siang apalagi di sepertiga malam. Ketika lebih banyak makhluk-Nya pulas, dalam dekapan dinginnya malam dan hangatnya selimut tebal.

Continue reading “Tetaplah Tersenyum…”

Featured post

Sudahkah kau tersenyum hari ini?

Manusia yang hidup didalam dunia yang fana ini, asalkan bisa meninggalkan sebuah senyum yang benar-benar keluar dari hati nuranimu, akan membuat orang yang melihat senyum akan tersentuh.

Ada seorang pemuda kaya, biasanya dia suka memakai barang mewah, mengendarai mobil mewah, setiap hari kerjanya hanya berfoya-foya, dia menganggap tujuan dia lahir didunia ini adalah menikmati hidup ini. Pada suatu hari, karena senyumannya, membuat dia menyadari arti kehidupan di dunia ini.

Continue reading “Sudahkah kau tersenyum hari ini?”

Featured post

Cantumkan Tersenyum ke Daftar Kegiatanmu

Katakanlah, tim Anda sedang kurang bagus kinerjanya, target masih jauh dari tercapai sedangkan waktu tenggat sudah di depan mata. Setiap orang di dalam tim merasakan tekanan yang bertambah besar. Begitu pula Anda. Sebagai manajer, manakah yang Anda pilih: menekan mereka untuk bekerja lebih keras atau menyemangati mereka dengan senyuman?

Untuk menjawab pertanyaan itu, menarik untuk kita tengok hasil penelitian Gerben A. van Kleef dan kawan-kawan dari Belanda. Belum lama berselang, mereka mempelajari karakteristik yang dikenal sebagai epistemic motivation, yakni kemauan untuk memroses informasi secara menyeluruh dan berusaha memahami arti di belakang emosi orang lain.

Continue reading “Cantumkan Tersenyum ke Daftar Kegiatanmu”

Featured post

Serpihan Kecil Awal Pagi…

Kerlingan awan mentari pagi ini begitu menyeruak hingga ia menyibak setiap insan yang termenung. Mengatakan dengan lembut bahwa sang mentari kan segera datang. Cerahkan hari-harimu menuju impian. Deru mesin mulai terdengar bising di pagi itu. Meski perpendaran warna di langit belum lekas hilang. Namun, anak-anak lelaki berseragam sekolah sudah siap di halte menunggu angkutan umum.

Continue reading “Serpihan Kecil Awal Pagi…”

Featured post

Rumah Di Dekat Rel Kereta Tinggi Menjulang

Pernah terbayang, tidur di rumah yang berada di dekat rel kereta. Setiap menit dan jam akan terganggu suara deru kereta melintas. Tak pelak siang dan malam selalu membisiki, tak terkecuali. Meski rumah berjejer tinggi menjulang, tetap suara merdu alunan gesekan roda kereta terdengar hingga ke sanubari.

Rumah-rumah kardus di pinggir rel kereta memang sudah beberapa lama tak terlihat lagi. Mereka sudah berpindah tempat. Entah dimana, sebab mereka tak mampu membayar uang sewa jika mengontrak. Janji penguasa atas kampung yang nyaman pun tak kunjung hadir. Berganti urukan tanah di utara jakarta menggusur nelayan tak berdasi untuk pergi lantaran tak ada ikan mau menghampiri jala-jalanya. Atau urukan tanah bercampur CSR untuk rumah susun bersewa mahal dari konglomerat jakarta. Entah apa yang mereka pertaruhkan untuk mempertebal dompet dengan gelontoran intrik kalangan elit yang sulit dipahami rakyat saat ekonomi sulit. 

Ratusan bahkan ribuan warga gusuran mulai terancam terusir dari rumah-rumah susun, katanya. Lantaran uang sewa yang tinggi tak mampu mereka bayar kepada pengelola. Ya, rumah susun untuk warga miskin kota layaknya apartemen warga kaya kota dengan segudang permintaan dan permasalahan.

Rumah di dekat rel kereta tetap mampu membuat pemiliknya nyaman tidur meski deru roda kereta terus bersahut-sahutan tiap menit berganti. 

Ya, kenyamanan yang tak dirasakan oleh orang-orang yang tergusur. Ya, kenyamanan yang tak dirasakan oleh nelayan tak berdasi yang hanya berharap pulang dapat tangkapan banyak untuk dijual di pasar ikan dan uang nya untuk keluarga makan sehari-hari. Ya, kenyamanan yang tak lagi dirasakan saat pluralisme dan tatanan norma sudah tercabik oleh oknum.

Orang yang nyenyak tidur di rumah dekat rel kereta artinya dia tahu dan sadar bahwa kereta yang melintas di dekatnya hampir setiap menit berada di atas rel yang disiapkan. Rel itu akan memandu kereta sampai tujuan nya. Orang itu benar-benar nyenyak tanpa peduli suara deru yang menggema tatkala kereta melintas.

Keyakinan yang luar biasa. Meski diluar hingar bingar tetapi ia mencoba sebisa mungkin agar kebisingan di luar rumah bisa diabaikan atau diperkecil volumenya sehingga tetap terdengar merdu dan syahdu.

Sulit untuk digugu dan ditiru kecuali mereka yang sudah siap untuk dewasa. Laksana seekor ikan di lautan yang berusaha dagingnya tetap nikmat disantap tanpa takut keasinan. 

Mereka benar-benar menjadi pioneer kebaikan yang selalu mampu menjadi filter atas hal-hal keburukan yang terjadi di sekeliling nya setiap hari. Apapun yang terjadi di sekeliling nya, maka ia tetap empati namun tidak berbaur pada hal-hal yang bising macam gesekan roda dan besi rel kereta yang meski hasilkan suara merdu tapi menjerumuskan. 

​Menyerang Qiyadah Melumpuhkan Dakwah

Oleh Muhammad Abdullah Al Khatib
Wahai Ikhwan, karena dakwah kalian merupakan kekuatan besar melawan kedzoliman, maka wajar kalau mereka mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kalian, bahkan tidak ada satu pun cara kecuali mereka manfaatkan untuk memerangi dan memberangus dakwah kalian.

Cara paling berbahaya yang digunakan oleh musuh yang licik adalah upaya menimbulkan friksi internal di dalam dakwah, sehingga mereka dapat memenangkan pertarungan karena kekuatan dakwah melemah akibat terpecah belah. Dan hal yang paling efektif menimbulkan friksi internal dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah antara prajurit dan pimpinan. Sebab bila prajurit sudah tidak memiliki sikap tsiqah pada pimpinannnya, maka makna ketaatan akan segera hilang dari jiwa mereka. Bila ketaatan sudah hilang, maka tidak mungkin ada eksistensi kepemimpinan dan karenanya pula tidak mungkin jamaah dapat eksis.

Oleh karena itulah, maka Imam Asy-Syahid menekankan rukun tsiqah dalam Risalah At-Ta’alim dan menjadikannya sebagai salah satu rukun bai’at. Imam Asy-Syahid juga menjelaskan urgensi rukun ini dalam menjaga soliditas dan kesatuan jamaah, ia mengatakan:

“…Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah – yang timbal balik – antara pimpinan dan yang dipimpin menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan. “Ta’at dan mengucapkan perkataan yang baik adalah lebih baik bagi mereka” (QS 47:21). Dan tsiqah terhadap pimpinan merupakan segala-galanya bagi keberhasilan dakwah.”

Kita tidak mensyaratkan bahwa yang berhak mendapat tsiqah kita adalah pemimpin yang berkapasitas sebagai orang yang paling kuat, paling bertakwa, paling mengerti, dan paling fasih dalam berbicara. Syarat seperti ini sangat sulit dipenuhi, bahkan hampir tidak terpenuhi sepeninggal Rasulullah saw. Cukuplah seorang pemimpin itu, seseorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikui amanah (kepemimpinan) yang berat ini. Kemudian apabila ada seorang ikhwah (saudara) yang merasa bahwa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pimpinannya, maka hendaklah ia mendermakan kemampuan dan bakat tersebut untuk dipergunakan oleh pimpinan, agar dapat membantu tugas-tugas kepemimpinannya bukan menjadi pesaing bagi pimpinan dan jamaahnya.

Saudaraku, mungkin anda masih ingat dialog yang terjadi antara Abu Bakar ra dan Umar ra sepeninggal Rasulullah saw.

Umar berkata kepada Abu Bakar, ‘Ulurkanlah tanganmu, aku akan membai’atmu.’

Abu Bakar berkata, ‘Akulah yang membai’atmu.’

Umar berkata, ‘Kamu lebih utama dariku.’

Abu Bakar berkata, ‘Kamu lebih kuat dariku.’

Setelah itu Umar ra berkata, ‘Kekuatanku kupersembahkan untukmu karena keutamaanmu.’

Umar pun terbukti benar-benar menjadikan kekuatannya sebagai pendukung Abu Bakar sebagai kholifah.

Tatkala seseorang bertanya kepada Imam Asy-Syahid, ‘Bagaimana bila suatu kondisi menghalangi kebersamaan anda dengan kami? Menurut anda siapakah orang yang akan kami angkat sebagai pemimpin kami?’

Imam Asy-Syahid menjawab, ‘Wahai ikhwan, angkatlah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah dia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian.’

‘Wahai Ikhwan, mungkin anda masih ingat perselisihan yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar dalam menyikapi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Sebagian besar sahabat berpendapat seperti pendapat Umar, yaitu tidak memerangi mereka. Meski demikian tatkala Umar mengetahui bahwa Abu Bakar bersikeras untuk memerangi mereka, maka ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, yang menggambarkan ketsiqahan yang sempurna, ‘Demi Allah, tiada lain yang aku pahami kecuali bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka aku tahu bahwa dialah yang benar.’

Andai Umar ra tidak memiliki ketsiqahan dan ketaatan yang sempurna, maka jiwanya akan dapat memperdayakannya, bahwa dialah pihak yang benar, apalagi ia telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Allah swt telah menjadikan al haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar.’

Alangkah butuhnya kita pada sikap seperti Umar ra tersebut, saat terjadi perbedaan pendapat di antara kita, terutama untuk ukuran model kita yang tidak mendengar Rasululiah saw memberikan rekomendasi kepada salah seorang di antara kita, bahwa kebenaran itu pada lisan atau hatinya.

Mengingat sangat pentingnya ketsiqahan terhadap fikrah dan ketetapan pimpinan, maka musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga untuk menimbulkan keragu-raguan pada Islam, jamaah, manhaj jamaah, dan pimpinannya. Betapa banyak serangan yang dilancarkan untuk melaksanakan misi tersebut.

Oleh karena itu, seorang akh jangan sampai terpengaruh oleh serangan-serangan tersebut. Ia harus yakin bahwa agamanya adalah agama yang haq yang diterima Allah swt. Ia harus yakin bahwa Islam adalah manhaj yang sempurna bagi seluruh urusan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ia harus tetap tsiqah bahwa jamaahnya berada di jalan yang benar dan selalu memperhatikan Al Quran dan Sunah dalam setiap langkah dan sarananya. Ia harus tetap tsiqah bahwa pimpinannya selalu bercermin pada langkah Rasulullah saw serta para sahabatnya dan selalu tunduk kepada syariat Allah dalam menangani persoalan yang muncul saat beraktivitas serta selalu memperhatikan kemaslahatan dakwah.

Kami mengingatkan, bahwa terkadang sebagian surat kabar atau media massa lainnya mengutip pembicaraan atau pendapat yang dilakukan pada pimpinan jamaah, dengan tujuan untuk menimbulkan keragu-raguan, menggoncangkan kepercayaan, dan menciptakan ketidakstabilan di dalam tubuh jamaah. Oleh karena itu, seorang akh muslim tidak diperbolehkan menyimpulkan suatu hukum berdasarkan apa yang dibaca dalam media massa, tidak boleh melunturkan tsiqahnya, dan tidak boleh menyebarkannya atas dasar pembenaran. Ia harus melakukan tabayyun terlebih dahulu.

Allah swt menegur segolongan orang yang melakukan kesalahan dengan firman-Nya,

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka serta merta menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja di antaramu.” (QS 4:83).

*Dikutip dari Kitab Nadzharat Fii Risalah at-Ta’alim (Bab Ats-Tsiqoh) terbitan Asy-Syaamil

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑